Sejauh Mana Kita Harus Memihak?

good or bad

sumber gambar: Pixabay

Memiliki cause adalah sesuatu yang sangat penting.

Well, mungkin tidak untuk semua orang. Sebagian orang akan lebih memilih untuk menjalani hidup apa adanya. Ikut saja, yang penting aman dan nyaman, sebab hidup sudah ribet dan tak usah dibikin lebih ribet. Tapi banyak, terlalu banyak orang yang tumbuh menjadi orang hebat justru karena mereka mempertahankan cause mereka. Sampai mati. Orang-orang yang punya prinsip, istilahnya.

Ada banyak hal yang bisa menjadi cause dalam hidup seseorang. Agama, misalnya, adalah salah satu cause yang banyak dipegang oleh masyarakat Indonesia.

Sebuah studi oleh Pew Research Center meletakkan Indonesia sebagai bangsa nomor tiga di dunia yang memandang agama sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidup, di bawah Etiopia dan Senegal. Lebih tinggi dari Malaysia atau Palestina. Sayangnya tidak ada Saudi Arabia di daftar itu. Negara di posisi paling buncit adalah Cina.

Yang skeptis atau tidak sepeduli itu terhadap agama (atau institusinya), biasanya akan menemukan hal-hal lain untuk dijadikan cause. Ateisme. Kemanusiaan universal. Nalar. Sosialisme. Liberalisme. Hak asasi manusia. Ideologi lintas sektor seperti feminisme. Environmentalisme. Dari kiri sampai kanan, dari fasisme sampai anarkisme, you name it.

Saya sendiri termasuk salah satu yang setuju bahwa cause sangat penting untuk dimiliki dan dipertahankan. Batas upaya mempertahankan sebuah cause menurut saya adalah hak-hak orang lain. Memiliki dan mempertahankan sebuah cause bukanlah perkara menjadi mainstream atau antimainstream, menjadi penurut atau rebel.

Memiliki cause adalah suatu cara dan upaya mencari tahu, untuk apa kita hidup dan di mana kita harus berdiri – at least most of the time.

Sayangnya dunia ini seringkali terlalu ambigu bagi mereka yang mencoba mempertahankan cause-nya. Atau mereka yang masih pemula. Adalah nasib bahwa sebagian cause diciptakan sebagai cita-cita utopis yang akan membuat penggenggamnya dicap sebagai tidak realistis, bahkan buta. Mungkin mirip-mirip utopisnya Pancasila, dasar negara kita.

Saya sejauh ini memilih lima jenis cause yang menurut saya layak dipertahankan: kasih, hak asasi manusia, nalar, feminisme, dan sesuatu yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “adil sejak dalam pikiran”.

Yang pertama saya ambil dari apa yang menjadi inti dari agama yang masih saya pilih hingga saat ini. Empat lainnya simply karena mereka berkorelasi satu sama lain. Kelihatan keren? Mungkin kedengarannya begitu. Masalahnya, rupanya saya masih ingusan dalam mempertahankannya.

Saya pernah disindir oleh beberapa orang yang berpendapat bahwa opini-opini yang saya ekspresikan di media sosial terlalu “berisik”. Saya kurang paham apa maksud “berisik” ini sesungguhnya. Ada juga yang memakai istilah “offside”.

Yang saya tangkap adalah “berisik” dalam arti: 1. memenuhi linimasa dengan urusan yang either tak semua orang mau tahu persoalannya atau tak semua orang peduli dengan pendapat saya soal itu, dan 2. terlalu bersemangat sampai annoying untuk dilihat di linimasa.

Itu untuk menggambarkan seberapa jauh saya biasanya mempertahankan cause yang saya yakini. Tidak perlu twitwar untuk jadi orang keras kepala, rupanya. Dan memang saya jarang twitwar, karena sungguh melelahkan jiwa bila harus bertempur ide dalam 140 karakter. Isinya biasanya cuma miskomunikasi dan kesalahan tata bahasa. Lebih baik menulis opini panjang seperti ini.

Tapi belakangan ini, ada dua topik hangat yang beredar di media sosial kita. Satu, perkara vaksin palsu. Dua, perkara publikasi Koordinator KontraS, Haris Azhar, di media sosial tentang pengakuan Freddy Budiman sang terpidana mati kasus narkoba. Ada satu lagi yang sudah sejak lama menjadi bahan pergumulan saya, yaitu perkara aborsi.

Ketiga perkara tersebut telah memicu satu pertanyaan besar yang berputar-putar dalam kepala saya: demi cause kita, sejauh mana kita harus memihak?

Akhir-akhir ini, soal aborsi, saya sudah lumayan berhasil untuk menentukan sikap. Itu pun setelah perenungan yang cukup lama. Saya memutuskan bahwa saya mendukung aborsi, jika dan hanya jika semua opsi lain telah gugur – setelah dipertimbangkan secara medis, sosial, ekonomi, psikologis, dan tetek bengek lainnya. Bukan keputusan yang remeh, jika harus mengingat-ingat latar belakang saya sebagai Katolik.

Kemudian datang perkara vaksin palsu, yang mau tidak mau menyeret profesi saya sebagai seorang dokter.

Saya sempat menulis sudut pandang dari profesi dokter, seturut pemahaman saya, tentang kehebohan vaksin palsu. Setelah menuliskannya, tebersit sedikit penyesalan dalam hati. Terutama setelah melihat berbagai akun Twitter yang menyindir pernyataan-pernyataan petinggi IDI yang cenderung membela para sejawatnya, termasuk meyakini betul bahwa dokter yang ditersangkakan hanyalah korban. Termasuk merasa bahwa ada grand scheme yang berniat menyudutkan profesi ini.

Bukan barang baru, sebetulnya – meski tak se-lebay konspirasi grand scheme. Salah satu poin dalam sumpah dokter berbunyi, “Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung.” Poin ini disebut dengan prinsip kesejawatan.

Sebuah poin yang terlalu mudah dipandang buruk oleh mereka yang sudah kehilangan kepercayaan sebagai semacam “sumpah darah rahasia”, di mana dokter pasti akan selalu saling melindungi, membela, dan menutupi kesalahan sejawatnya.

Bagaimanapun juga, code of conduct sebuah profesi, suka dukanya, cara berpikirnya, hanya akan betul-betul dipahami oleh orang-orang yang menjalaninya. Dan tepat seperti itulah yang terjadi pada profesi dokter.

Orang bilang, seseorang baru dapat dikatakan pandai bila ia sanggup menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa sederhana. Masalahnya, bagi saya, ini bukan sekadar perkara penyederhanaan bahasa atau tingkat pendidikan. Menurut saya, gap terbesar profesi ini dengan masyarakat awam adalah gap cara berpikir. Pendidikan kedokteran menggodok siswa-siswinya untuk memiliki suatu pola pikir tertentu yang, kalau tak dijalani sendiri, sulit untuk “disederhanakan” bagi awam.

Gap ini terjadi bukan saja dengan pasien atau keluarga pasien dalam praktik sehari-hari. Hal ini terjadi pula dalam hubungan dengan negara, dengan instansi pemerintah yang harus melakukan kerja sama lintas sektor, juga dengan media (terutama di era media daring).

Akibat paling parahnya adalah salah paham atau miskomunikasi. Profesi dokter menjadi “alien” yang dianggap sombong, tak mau dikritik, eksklusif, defensif, mata duitan, namun di sisi lain juga dituntut untuk mengabdi sepenuh hati tanpa banyak meminta. Kata teman-teman saya yang PNS, “kerja padamu negeri”.

Dalam kasus vaksin palsu ini, saya pun jadi bertanya-tanya: sejauh mana saya harus memihak profesi saya sembari tetap menggunakan nalar plus membela kemanusiaan dan HAM? Apakah saya adil, apakah saya solider, apakah saya logis, ataukah saya hanya sekadar bias? Sampai mana saya harus berpihak?

Lalu ada lagi kehebohan yang sebetulnya tadinya tak terlalu saya perhatikan: persoalan Awkarin si selebgram dan vlogger “vulgar”. Sebagai generasi yang beberapa tahun lebih tua, harus saya akui dengan segala kemunafikan yang ada bahwa ketika pertama kali mencari tahu tentang Awkarin dan foto-fotonya, saya sendiri merespon dengan “ckckck” dan geleng-geleng kepala. Anak ini ngapain, sih?

Tapi lalu saya membaca artikel parenting atau youth manual yang membahas Awkarin. Dan saya merasa ada yang salah, sangat salah, dengan cara kita melihat dan menilai Awkarin. Dan akhirnya lahirlah tulisan saya tentang dia – atau lebih tepatnya, tentang cara kita memandangnya. Ketika saya menulisnya, semakin panjang tulisan, semakin sadar saya bahwa saya belum bisa lepas dari kebiasaan menjadi seorang hipokrit.

Seseorang di Twitter menulis demikian dalam tanggapannya setelah membaca tulisan saya soal Awkarin itu:

“Ada feminis yang berpandangan bahwa mereka bebas telanjang dan tak berpikir bahwa ketelanjangan mereka mengandung pengaruh. Kita pengen “kumaha aing” tapi juga pengen ngatur-ngatur orang lain. Banyak feminis dan liberalis yang begini. Saya kerap malas debat sama feminis, filsuf, agamawan, dll. Yang masih mabuk buku. Mereka sering gak bisa nerima bahwa dunia ini nggak ideal.”

Di luar pendapat saya bahwa orang itu punya misunderstanding yang nyata tentang feminisme – kalau ini dibahas, bakal nggak habis-habis tulisan ini, jadi lain kali saja atau silakan berkonsultasi pada feminis terdekat di sekitar Anda – ada sentilan yang nyata pula dalam tanggapannya. “Mereka sering gak bisa nerima bahwa dunia ini nggak ideal.”

Seorang teman feminis pernah berkata, bagi dia, segala sesuatu yang baik meski utopis tetap layak untuk diperjuangkan. Seorang teman lain bilang, sebenarnya it’s all about picking your battle. Seperti strategi perang. Idealnya, orang mau pakai hotpants atau tidak, tidak ada hubungannya dengan kehormatannya sebagai manusia. Bahkan bisa jadi semacam pernyataan sikap. Tapi pakai hotpants di Pondok Indah Mall dan di tengah-tengah kota Banda Aceh tentu akan lain.

Semenyebalkan apapun seperangkat sistem moral lengkap dengan polisinya di mata kita, dalam kehidupan nyata sistem itu seringkali lebih digdaya dan merasuki pikiran semua orang. Kadang-kadang juga termasuk alam bawah sadar kita sendiri. Sehingga kita jadi terombang-ambing. Bilang pakai hotpants nggak apa-apa, tapi kok masih risih diliatin orang – atau risih lihat orang yang pakai?

(Di luar kesalahpahaman serius bahwa feminisme katanya somehow menyuruh-nyuruh perempuan telanjang dan “merusak hak hidup nyaman” orang.)

Yang sulit adalah bagaimana membedakan kemunafikan dengan picking your battle? Bukan di mata orang lain, maksudnya. Tapi di mata diri kita sendiri. Ketika kita memandang ke dalam.

Dilemanya mungkin tak kalah dengan perdebatan tentang Haris Azhar yang baru saja membuka informasi yang diklaimnya diberikan oleh Freddy Budiman tentang keterlibatan berbagai lembaga negara dalam jaringan perdagangan narkoba. Di sekitar saya, ada banyak pendapat tentang pilihan Haris Azhar ini. Ada yang bilang kecewa karena dia gegabah. Ada yang bilang dia sedang menabur garam di lautan. Ada yang bilang dia sekadar caper tak berguna.

Di satu sisi, harus diakui bahwa membuka suatu informasi fantastis tanpa memiliki bukti-bukti pendukungnya ke muka publik adalah sebuah tindakan yang tidak logis, tidak etis. Saya jadi ingat Tempo yang beberapa edisinya menyerang Ahok. Logika kejadiannya sama – menyajikan sesuatu yang bombastis dari sumber yang dianggap tak kredibel. Dalam kasus Tempo, seorang yang dianggap pathological liar. Dalam kasus Haris Azhar, seorang residivis kelas kakap yang dianggap jago nge-bluff.

Tapi saya tidak bisa menyingkirkan feeling – astaga, betapa logisnya argumen saya ini – bahwa Haris Azhar bersama KontraS punya alasan kuat saat memutuskan pasang badan – atau bisa disebut gila – membuat pernyataan itu. Risikonya tidak main-main. Berhadapan dengan TNI, Polri, dan BNN sekaligus. Dan terbukti, Haris Azhar akhirnya dilaporkan secara hukum oleh lembaga-lembaga itu dengan memakai UU ITE.

Haris Azhar dan KontraS bisa jadi sekumpulan orang desperate yang caper, melakukan segala cara demi udang di balik batu. Udangnya adalah membuat semua orang setuju bahwa hukuman mati itu kesalahan. Tapi di sisi lain – maafkan jika saya bias – argumentasi mereka soal hukuman mati memang logis. Hukuman mati tak selayaknya dilakukan jika pengadilan masih kotor, sebab orang mati tak bisa hidup lagi. Dan pengadilan manusia mana yang tak bisa salah?

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa urusan saya dengan hukuman mati, Awkarin, dan tetek bengek apalah-apalah itu? Saya bukan siapa-siapa. Cuma seorang warga negara yang tak terkenal sama sekali. Tidak semua hal harus kamu berikan opini, Put, kata seseorang pada saya. Jangan berisik. Nggak semua orang pengin tahu atau peduli apa isi kepalamu.

But… I can’t stay silent in all these. Bagi saya, ada hal-hal yang penting di mana kita harus punya sikap. Meskipun kita cuma remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan. Selama itu bukan urusan pribadi orang lain yang kita intip-intip. Bagi saya, lebih baik beropini kuat-kuat soal hukuman mati daripada mengurusi putusnya Taylor Swift dan Calvin Harris.

Tapi, ya, itu. Risiko dari proses berpikir, selain menjadi ada, adalah menjadi bingung. Sejauh mana kita harus memihak? Tempo atau Ahok? Haris Azhar atau TNI/Polri/BNN? Aborsi atau tidak aborsi? Mendukung atau menghujat?

Sejauh mana kita harus bergerak ke salah satu sisi, mempertahankan cause dalam dinamika hidup yang tak ideal dan terlalu penuh dengan kepala-kepala yang berbicara ini?

Advertisements

My Father was A Cheater

Seorang anak perempuan, sekitar dua atau tiga belas tahun usianya, iseng membuka kotak masuk SMS di ponsel milik Papanya yang tergeletak tanpa penjagaan sang empunya. Di dalam folder itu, ada sederet SMS dari satu nomor dengan nama “Mey” (or something like that – she doesn’t really remember). Salah satu SMS dibukanya. Isinya menyapa mesra dengan panggilan “Abang”, minta dibawakan makanan ke rumah, menanyakan kapan pulang. Jemari anak itu lalu bergegas menuju folder kotak pesan keluar. Lalu menemukan balasan. Kepada Mey. Bunyinya, menjanjikan membawa makanan dan menanyakan, Mey sudah makan?

“Mey”. Jelas bukan nama Mamanya.

Saya masih ingat, saya sempat ingin diam-diam mencatat nomor itu. Tujuannya, supaya suatu hari saya bisa mengirim SMS dengan nomor lain – yang bukan nomor saya atau nomor Papa atau nomor siapa saja. Misalnya, SMS berbunyi, “Heh, ngapain kamu SMS begitu ke Papa saya? Kamu siapa? Nggak tahu diri.” Semacam itulah. Atau, sekadar mengata-ngatai dengan beberapa makian yang cocok – oh, I knew some. I was a smart kid, too. I knew about black mailings.

Tapi saya tidak jadi melakukannya. Entah kenapa. Mungkin karena saya merasa bersalah sudah diam-diam membuka ponsel orang lain tanpa izin – sesuatu yang melanggar privasi, kelakuan yang dibenci Mama saya. Mungkin karena, lebih dari membuat marah, SMS-SMS itu lebih banyak menimbulkan kebingungan bagi saya. Akhirnya saya tutup ponsel itu, dan saya tetap tutup mulut untuk seterusnya.

Bertahun-tahun setelahnya, setelah orangtua saya bercerai, Papa mengajak saya “bicara serius” dalam sebuah perjalanan naik mobil di malam hari. Dia bercerita bahwa dia sudah menikah lagi, dan sudah punya dua anak perempuan selain saya dan adik saya. Yang paling tua, usianya lebih tua dari usia perceraian Papa dan Mama.

Saya bilang, ya, saya sudah tahu. Papa tampak kaget. Bicaranya langsung menjadi lebih ragu-ragu dari sebelumnya. Papa bertanya, tahu dari mana? Jawab saya, ya, pokoknya tahu. Dari mana, itu tidak penting. Saya sudah tahu, kata saya, dan saya bisa mengerti.

Sepanjang pembicaraan itu, saya tidak menatap mata Papa. Meski saya sadar, butuh keberanian besar dari Papa untuk menyampaikan hal itu pada saya. Wajahnya menunjukkan itu. Begitu juga nada suaranya. Dan caranya bercerita.  But I just felt like, no, no big deal. Bukan masalah besar. Saya memang sudah tahu, kok, sudah tahu sejak lama malahan – apa bedanya? Shit happens, anyway.

Saya tidak pernah jadi tipe orang yang bisa mengatakan dengan rileks, “I love you¸ Papa.” Atau “Aku sayang Papa.” Rasanya aneh mengucapkan kata-kata itu. Saya juga tidak pernah nyaman memeluk atau menggelendot pada Papa, seperti yang suka dilakukan anak-anak perempuan lain yang gemar bermanja-manja pada ayah mereka biarpun sudah dewasa.

They say, daddies are their daughter’s first love. Tapi Papa tidak termasuk.

Saya tidak punya satu pun foto Papa di ponsel atau laptop saya – itulah mengapa tulisan ini tidak ada ilustrasinya.

Sebelum menulis tulisan ini, saya baru saja menonton film dokumenter Amy Winehouse yang berjudul “AMY”. Amy Winehouse adalah seorang penyanyi jazz dari Inggris yang sangat berbakat, sampai-sampai musisi selevel Tony Bennett sangat memujinya. Amy meninggal di usia muda karena overdosis alkohol. Sejak awal masa remaja, Amy memiliki kecenderungan depresi. Sepanjang kariernya, Amy bergulat dengan kecanduan alkohol, bulimia, narkotika, dan hubungan cinta yang destruktif. Dalam satu rekaman wawancara dengan mantan kekasihnya, lelaki itu bercerita bahwa, di awal hubungan mereka, ia pernah bertanya pada Amy, mengapa Amy mencintainya dengan begitu membabi buta. Membabi buta yang cenderung ke arah penghancuran. Why did their love become like that? Amy menjawab, ada hubungannya dengan apa yang ia rasakan tentang ayahnya. Ayah Amy, yang meninggalkan keluarga mereka untuk perempuan lain saat Amy masih kanak-kanak, yang saat masih bersama-sama mereka pun sering “ada tapi tidak benar-benar ada”, yang berasumsi bahwa setelah kepergiannya, Amy sepertinya merespon dengan baik-baik saja.

Saya menonton adegan itu, dan bertanya dalam hati, “Dude. Why the hell I feel like I can relate to that?” Saya pun pernah berada dalam hubungan cinta yang destruktif. Saya pernah mencintai seseorang – atau lebih tepatnya, tergantung pada seseorang – seolah-olah laki-laki itu adalah orang terakhir di bumi ini, seolah-olah dunia akan kiamat jika ia pergi. Saya pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Tentu saja, Papa tidak (perlu) tahu itu semua. What you don’t know won’t hurt you. I hope.

Sepanjang sebagian besar masa kecil saya, Papa dan Mama berada dalam situasi perang dingin. Tidur satu rumah, tapi pisah ranjang. Papa tidur di sofa di lantai bawah. Kalau salah sedikit saja, perang mulut besar-besaran bisa terjadi. Di saat-saat seperti itu, saya akan melakukan salah satu di antara hal-hal berikut: 1. Mengunci diri di kamar seperti tidak ada apa-apa. 2. Menangis. 3. Ikut berteriak-teriak. 4. Poin 1 sampai 3 sekaligus. Waktu masih kecil dan naif, saya sangat takut mereka bercerai. Waktu sudah lebih besar, saya ingin mereka bercerai.

Ketika saya kuliah, dan satu tahun pertama setelah lulus ketika gaji masih pas-pasan, saya beberapa kali kehabisan uang. Saya tidak berani meminta pada Mama – yang selalu strict soal hal-hal seperti itu. Jadi, pada keadaan kepepet, akhirnya saya selalu mengirim SMS pada Papa. Dengan berbagai alasan. Papalah yang akan selalu mentransfer uang ekstra itu ke rekening saya. Bagaimanapun kondisi keuangannya saat itu.

Papa saya adalah seorang yang (kelewat) pragmatis, dan lemah soal manajemen uang atau waktu. Mungkin itulah yang menyebabkannya tidak cocok dengan Mama, yang koleris dan sangat efektif bin efisien – di luar entah apa aja yang mereka lakukan pada satu sama lain. Papa saya lambat mengambil keputusan, tapi loyal, mudah bergaul, punya harga diri tinggi, dan selalu berkata bahwa ia rela habis-habisan kalau ada orang yang menjahati anak-anaknya. Beberapa tante saya bilang, saya anak kesayangan Papa. Kalau terjadi apa-apa pada saya, Papa “bisa mati”.

Saat ini, usia Papa 61 tahun. Dia masih punya beban: kedua adik tiri saya, usia SMP dan TK. Papa berkali-kali minta maaf karena ia tidak akan sanggup membiayai kalau saya ingin sekolah lagi setelah meraih gelar dokter ini. Papa tidak bisa berhenti merokok. Dan pekerjaannya sebagai arsitek mandiri tidak selalu lancar.

Kadang, saya khawatir jika memikirkan Papa.

Saya tidak marah pada Papa. Tidak lagi. Istri Papa, “Mey”, adalah orang yang baik. Adik-adik tiri saya juga anak-anak manis, yang saya sayangi. Saya tahu dan bisa melihat, bersama mereka Papa bahagia. Lebih bahagia daripada semasa di rumah dulu.

Papa adalah Papa saya. Papa bukan bekas Papa saya. My father was a cheater, once. Saya sudah memaafkannya untuk itu. Tapi kadang, saya bingung. Bagaimana caranya menemukan pengganti kata-kata “I love you” itu untuk Papa?

Bagaimana?

****

Ditulis untuk #KamaProject #tentangAyah dari Kamantara.

The Serious Case of Good Book, Good Food, Good Mind: Bookshow “#HilangnyaMaryam & Perkara-Perkara Lain”

Sejak kecil, saya punya kebiasaan jelek – atau bagus, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya – yang selalu membuat saya diomeli: makan sambil baca buku.

Kata orangtua saya, makan sambil membaca membuatmu tidak bisa berkonsentrasi pada makananmu. “Mana enak makannya?” kata papa saya – yang padahal juga suka membaca koran di meja makan. Tapi sebetulnya buat saya, tidak juga, ah. Saya malah suka merasa ada yang kurang kalau makan tidak sambil ngapa-ngapain, entah itu baca buku, menonton film, mengobrol dengan seseorang, atau minimal sambil memperhatikan sekitar plus berpikir ngalor-ngidul. Dan makanan saya tetap terasa enak.

Actually, I do love them both: good books and good foods. Dua hal itu termasuk dalam daftar benda-benda yang tak pernah pelit saya alokasikan dananya. Sebagai bagian dari kelas menengah ngehek yang belum sanggup bayar KPR tapi juga bukan pemilik modal seperti Pak HT, jadinya saya memang punya privilege untuk mencukupi kebutuhan sekunder semi tersier – membaca untuk meluaskan isi kepala serta makan tak sekadar untuk kenyang. Semoga nantinya saya juga akan punya kesadaran kelas. Bourgeois yang percaya katakan: AMIN!

Good book, good food, good mind. Dalam level tertentu, ketiga hal itu terkait satu sama lain. Tidak seklise beauty, brain, behavior, sih. Tapi bisalah jadi formula trias baru. Baca buku bagus sambil makan enak artinya pikiran ikut orgasme. Jangan salah, makanan juga punya filosofi. Kalau tidak percaya, baca saja Eat, Pray, Love. Makanan dan sastra adalah dua hal besar yang menjadi komponen penting budaya suatu bangsa. Mungkin kelak kriteria untuk menjadi Putri Indonesia atau budayawan terhormat seperti Sitok Srengenge bukan lagi sebanyak apa kau menjadi kurator dan playboy, tapi sedalam apa pengetahuanmu soal buku, makanan, dan pikiran bangsamu. Tidak seperti beauty atau Mas Sitok, makanan semestinya tidak bias gender, meski Chef Juna tetap ganteng (ahey!)

But, anyhow….

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Maret 2016, saya berkesempatan mengunjungi antah berantah wilayah Tangerang Selatan untuk sebuah kesempatan khusus: menghadiri bookshow buku kumpulan cerpen indie yang saya tulis keroyokan bersama 11 orang teman lain, yakni “Hilangnya Maryam & Perkara-Perkara Lain”. Lokasi tepatnya berada di Tomyam Kelapa Saung Ibu, Jalan Sulawesi Raya no. 19 RT 08/011 (area parkir lapangan tenis Villa Bintaro Indah), Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten 15414. Saya datang dari arah Jakarta Pusat – don’t ask me how to reach it, saya mah orang Bandung. Tanya saja si kokoh pacar yang nyetir; it’s him who worked the Google Map’s magic. Yang jelas rasanya seperti pesiar keliling tol Lingkar Luar.

bookshow maryam 10

Sebelum acara bookshow ini, sebenarnya sudah sempat diadakan mini launching & talk show untuk buku #HilangnyaMaryam, namun saya tidak dapat hadir. So it was a good chance. Buku ini sendiri bertema warna-warni kehidupan perempuan, di mana satu warna dan satu kisah mewakili satu sisi dan karakter tertentu dalam “keperempuanan”. Saya sendiri kebagian warna nila, yang dalam cerpen keliru saya artikan sebagai biru langit malam. Doh, penulis tematik macam apa kamu, Put?

Dalam acara ini, ada dua sesi. Sesi pertama adalah bincang-bincang tentang proses pengerjaan sketsa-sketsa ilustrasi untuk cerpen-cerpen dalam #HilangnyaMaryam, yang dikerjakan oleh Dy Lunaly, seorang novelis sekaligus ilustrator. Sayangnya saya datang agak terlambat; ketika saya sampai, sesi ini sudah selesai. Tapi dari live tweet teman-teman yang saya ikuti, kata Kak Dy, ada dua sketsa yang menjadi favoritnya, yaitu sketsa untuk warna nila dan hitam. Sketsa nila, kata Kak Dy, juga sekaligus sketsa yang proses pembuatannya paling sulit, yang menggambarkan seorang gadis yang tumbuh berkembang seperti bunga yang telanjang keindahannya. Gara-garanya, cerpen saya surealis (baca: nggak jelas, maklum amatir). Dan saya baru ngeh kalau itulah makna dari sketsa tersebut. Padahal saya yang menulis cerpennya .___. Terima kasih, Kak Dy, kamu lebih tahu isi kepala saya daripada saya sendiri!

Jpeg

sesi pertama bersama Dy Lunaly & moderator Danis Syamra

Sesi kedua adalah seminar mini tentang penokohan dan karakter yang dibawakan oleh Pringadi Abdi Surya, seorang novelis, cerpenis, dan editor. Actually, materinya bagus. Tapi saya dongok perkara teori-teori menulis. So let me just explain them in a few simple sentences. Cerita yang baik harus memiliki tokoh yang: a. mendetail, sebab dia orang, bukan semata kumpulan deskripsi, b. menjiwai dan menghidupi plot cerita, termasuk punya alasan logis kenapa dia harus ada dan harus diceritakan. Dalam sesi ini, Mas Pring sempat mengkritik karakter cerpen saya yang menurutnya tidak jelas latar belakang keberadaannya, campur aduk. Maaf, ya, Mas Pring, seandainya saya tidak terlalu pemalu dan antisosial, saya sebenarnya pengin diskusi L (Eh, ini beneran….) Tapi sejak cerpen buat #HilangnyaMaryam, saya lama nggak nulis fiksi, nih, jadi bloon….

bookshow maryam 6

sesi kedua bersama Pringadi A. S. & moderator Mandewi

Nah, di antara kedua sesi itu, ada acara selingannya, yaitu kuis berhadiah buku dan bookswap. Hadiah paling gemilang adalah novel “O” karya Eka Kurniawan my laff, penulis junjungan kita semua yang katanya digadang-gadang menyamai reputasi Pramoedya Ananta Toer (kata orang, bukan dia sendiri). Kalau bookswap itu intinya menukar buku yang kamu bawa dengan buku-buku yang sudah disediakan di satu meja aduk besar. Terima kasih kepada Fiksimetropop yang sudah bersedia menjadi sponsor meja aduk ini. Btw, siapa yang bawa buku Putu Wijaya yang saya dapat kemarin itu? Terima kasih, ya, kamu sudah mencerahkan mata saya yang kuciwa karena ternyata Kuda Terbang Maria Pinto-nya nggak available buat di-swap….

bookshow maryam 4

meja bookswap dari Fiksimetropop

Nah, setelah bicara soal good book, gilirannya good food. Saya memang lumayan penasaran sama Tomyam Kelapa ini. Kelihatannya happening di media sosial, punya akun Instagram pula. Saya memang penggemar tomyam¸ sih. Di menunya, ada banyak menu pilihan tomyam dengan berbagai topping seperti bakso, ayam, seafood, dan spesial (campur aduk semuanya), versi kelapa atau nonkelapa. Saya pilih tomyam kelapa seafood – sebab katanya makan ikan bikin kamu pintar – dan nasi putih (yang ternyata harus dipesan terpisah). Kokoh pacar nggak makan karena lagi diet. Dan karena postingan ini adalah review yang jujur dan bukan iklan pesanan, berikut adalah pendapat saya soal menu ini: a. kelapa mudanya beneran muda dan “rasa” sari kelapanya terasa, b. nasinya banyak, euy, c. harganya masuk akallah, d. topping-nya nggak pelit-pelit amat dan lumayan segar, e. kurang (kalau bukan sama sekali) nggak pedas, agak kurang rempah, dan agak terlalu manis untuk lidah saya, serta f. bagaimanapun makan tomyam dengan wadah batok kelapa itu eksotis.

Jpeg

si tomyam kelapa seafood – yang ini di piring teman

Oh ya, satu lagi. Ada juga cemilan kue cubit kekinian dari Kue Cubit Genit. Ini kue cubit dengan warna-warni plus bentuk menggemaskan serta aneka macam topping, mulai dari cokelat, keju, fruit cereal, sampai permen jelly. Pendapat saya saat makannya cuma satu: kok, topping-nya nggak melted ke kue cubitnya, seperti kue cubit abang-abang? Padahal saya sudah membayangkan keju meleleh….

bookshow maryam 7

kue cubit happening

Setelah kenyang makanan, kenyang diskusi, dan kenyang si kokoh pacar yang minta izin ngudud melulu di luar, akhirnya kami sampai juga di pengujung acara. Di akhir, para peserta mendapat goodie bag berupa pouch dari Uluwala yang berisi buku dari Linebookshop dan pin bergambar salah satu ilustrasi dari buku #HilangnyaMaryam. Lumayan, dapat dua karena datang berdua. Langsung saya larikan ke meja bookswap¸ sebab kebetulan dua-duanya berisi teenlit. Bukan bermaksud menyinggung atau apa, cuma saya memang merasa sudah terlalu uzur untuk baca teenlit yang kata seseorang termasuk buku menye-menye. Btw, di meja bookswap itu banyak juga buku teenlit atau amore yang belum disentuh….

bookshow maryam 8

pouch dari Uluwala, berguna untuk nyimpen buku dalam tas yang saya bawa sehari-hari supaya nggak lecek

Ahem.

Sobutand, the thing is, saya bangga bisa menjadi bagian dari proyek ini. Pertama, karena susah menulis perempuan dari sudut pandang yang tidak klise atau mengandung stigma gender-based. IMHO, masih terlalu banyak fiksi untuk pembaca perempuan yang malah menyajikan hiperealitas dan tanpa sadar mengafirmasi ketimpangan gender dalam masyarakat, termasuk segala macam perkara karakter lelaki tanpa cela dan perempuan yang tergila-gila. Saya tahu, teman-teman saya sudah berusaha keras untuk menyajikan kehidupan perempuan yang realistis, termasuk segala cacat celanya. Kedua, karena seluruh keuntungan hasil penjualan buku #HilangnyaMaryam akan disumbangkan kepada Yayasan Taufan, sebuah yayasan yang menaungi anak-anak penderita kanker. Banyak kanker pada anak-anak yang terlambat dideteksi/ditangani, atau termasuk jenis kanker yang prognosisnya cenderung dubia ad malam (meragukan ke arah buruk). So, it means a lot to help them live happier. Soal menyumbang, rasa-rasanya nggak perlu ada khotbah lagi – kecuali namamu ada di Panama Papers atau daftar nama anggota dewan yang minta fasilitas melancong ke luar negeri, mungkin.

Dan sebagai iklan terakhir – sumpah, ini terakhir – yuk, pada beli buku “Hilangnya Maryam & Perkara-Perkara Lain” secara online di Nulisbuku. Ada 2 versi: versi full colour seharga Rp 70.000,- dan versi hitam putih seharga Rp 55.000,-. Kalau kata Mas Pring, tidak ada karya yang buruk, yang ada hanya penulis yang buruk. Saya tidak tahu apakah kami termasuk penulis yang buruk atau tidak. Yang jelas, dalam buku ini, kami berusaha menyajikan kisah sebaik-baiknya. Sebab itulah tugas seorang penulis yang paling besar, either kamu Lekra atau Manikebuis.

hilangnya maryam buku 1

the book that we talked about

Dan kepada kakak-kakak yang mungkin curiga di luar sana, tenang – meski tadi saya ngomongin kesadaran kelas, saya bukan Marxis, kok. Apalagi kuminis. Saya sadar, di negara ini, Marxisme itu haram! Saya cuma mau menumpang hipster aja, boleh, kan? Juga sebaliknya, kalau ada yang khawatir acara ini termasuk agenda para antek kapitalisme apalagi neolib atau Zionis – sumpah, bukan. Percayalah bukan, meskipun cerpen saya di buku ini bercerita tentang otoritas perempuan atas tubuh dan seksualitasnya. Lagian kapitalis, kok, semuanya disumbangin – mana ada. Kalaupun di sini seolah-olah banyak iklan, itu karena di zaman sekarang usaha berbuat baik pun harus punya advertising consultant – kalau nggak, mana ada yang (mau) tahu….

Mengapa Saya (Tidak) Bodoh karena Pernah Mencoba Bunuh Diri

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/db/c3/83/dbc383445db27283959d63ad31cec325.jpgsumber gambar

Suatu hari, saya membaca sebuah posting di blog milik seorang kenalan. Dalam tulisan itu, kenalan saya menulis tentang mengapa tak pernah terlintas dalam benaknya untuk bunuh diri saat ia sedang berada pada masa-masa terburuk dalam hidupnya.

Kenalan saya itu bukan fans berat agama maupun konsep tentang Tuhan. Maka, ia menjelaskan bahwa alasan besarnya diberikan oleh akal sehatnya. Baginya, bunuh diri adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Jika ia tetap hidup, akan ada banyak hal dalam hidup, hal-hal indah dan menyenangkan, yang bisa dialaminya. Sementara bunuh diri hanya akan memberikan akhir untuk segalanya – akhir yang tidak pasti, pula. Teman saya menulis bahwa dalam pandangannya, orang-orang yang (ingin) bunuh diri adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu bagaimana menikmati hidup.

https://i2.wp.com/41.media.tumblr.com/eed3014b1c03414d4edcaf59d7335931/tumblr_n6rq7niCqD1tqfrmxo1_400.jpgsumber gambar

Saya pernah mencoba bunuh diri.

Percobaan itu gagal, tentu saja. Saya memakai obat umum yang dijual bebas, yang tidak akan bisa membunuh siapa-siapa kecuali ditelan beratus-ratus. Di hari berikutnya saya terbangun dengan sedikit diare berdarah dan perasaan tidak berguna, tapi masih sangat, sangat hidup. Kalau saja diri saya waktu itu adalah diri saya yang sekarang, seorang dokter yang telah punya pengalaman, pasti ceritanya akan berbeda.

Alasan mengapa saya melakukan apa yang saya lakukan saat itu adalah alasan klasik: pacar saya mengancam akan meninggalkan saya. Pacar saya itu dua tahun lebih tua, sudah kuliah. Karakternya posesif, karena itu kami sering bertengkar tentang hal-hal remeh seperti mengapa dia tidak suka kalau saya nge-band, mengapa saya harus bergabung dalam denominasi gerejanya saat kami menikah nanti dan mengapa dia tidak akan pernah mau melakukan hal yang sebaliknya, mengapa dia tidak suka cara saya berpakaian, dan seterusnya. Dan saya mencintai dia – lebih tepatnya, terikat padanya – mati-matian.

Kalian mungkin berpikir, itu alasan yang bodoh sekali. Tidak lebih baik daripada keabsurdan dan le-lebay-an sinetron Indonesia masa kini. Hal itu bisa dipahami.

Waktu itu, hidup saya memang tidak sedang cerah terkemuka. Seingat saya, seumur hidup saya, saya selalu agak bersifat antisosial. Selalu sulit bagi saya untuk menjalin pertemanan. Saat itu, saya kelas 2 SMA – seorang remaja berkacamata yang, meski memiliki prestasi akademis yang baik, gagap sosial, rendah diri, dan selalu berkeringat lebih banyak dari orang lain. Saya bersekolah di SMP dan SMA swasta – yang terbaik di kota, tapi muridnya rata-rata borjuis. I guess you know the type.

Sejak kelas 1 SMP, saya memiliki satu orang teman saja. Seorang murid perempuan tomboy, yang penampilan fisiknya betul-betul seperti laki-laki. Ke mana-mana dan melakukan apa pun, kami selalu bersama. Because that’s what weirdos do.

Baru beberapa bulan sebelum lulus SMA saya tahu, dari pengakuan beberapa orang teman yang “akhirnya tahu yang sebenarnya dan menyesal sudah percaya”, bahwa sepanjang tahun-tahun itu, ada gosip yang beredar bahwa kami adalah sepasang lesbian. Aha! Rupanya itu alasan utamanya semua orang menjauhi dan mem-bully kami. Saya rasa, itu juga sebabnya kebanyakan murid-murid lelaki terlihat begitu enggan saat harus mengajak saya berdansa di sesi dansa-dansi acara retret tahunan kami.

Di tengah segala kekacauan itu, saya memuja pacar saya, seperti seseorang berpegangan pada rompi penyelamat agar tidak tenggelam. Pacar saya berasal dari latar belakang dan suku yang berbeda. Di mata saya, dia jauh lebih low profile dan lebih tidak sengak daripada siapa pun di sekolah saya. Bagi saya, dialah satu-satunya, selain keluarga saya yang tidak bisa dibilang harmonis, yang mau dan bisa menerima saya, menyayangi saya, peduli pada saya, tidak jijik saat menyentuh saya. Saya melakukan hubungan seksual pertama saya dengan dia. Another classic story. Beberapa kali dia meminta saya melakukan beberapa hal secara seksual – hal-hal yang sebetulnya tidak saya sukai atau menyakitkan bagi saya, tapi pada akhirnya saya lakukan juga. Untuk dia.

Tidak heran, saat dia mengancam akan meninggalkan saya, rasa-rasanya neraka bobol.

http://rs17.pbsrc.com/albums/b97/assmonkay/Annie-Maesuicide.jpg~c200sumber gambar

Kalau kalian mencari kata kunci “suicide” secara online sekarang ini, kalian akan menemukan sudut-sudut pandang yang berbeda. Tidak semua orang beranggapan bahwa bunuh diri adalah semata perbuatan bodoh dan egois – tidak lagi. Banyak penyintas bunuh diri yang mulai bicara secara terbuka. Mereka bercerita tentang perasaan mereka, tentang rasa sakit yang mereka rasakan, tentang lebih banyak lagi rasa sakit ketika usaha bunuh diri mereka gagal, dan orang tahu, dan orang mulai menghakimi.

Saya belum pernah menceritakan hal ini pada siapa pun – kecuali pacar saya itu, yang ujung-ujungnya menertawakan saya. Ini adalah yang perdana. Pengalaman saya mungkin bukan apa-apa dibandingkan pengalaman mereka. Tapi orang-orang itu, para penyintas itu – saya sungguh merasa saya tahu bagaimana perasaan mereka. Orang-orang akan berkata pada mereka, betapa bodohnya mereka, betapa egoisnya, betapa tidak tahu bersyukurnya. Faktanya, pada saat itu, yang terjadi adalah mereka sedang merasakan sakit yang begitu parah, sampai-sampai pikiran mereka seperti terkunci. It shut down, literally. Logika lenyap. Akal sehat hilang. Bukannya mereka egois sampai-sampai tidak memikirkan orang-orang yang menyayangi mereka, atau bodoh sampai-sampai tidak memikirkan masa depan – mereka memang tidak bisa berpikir. Sesederhana itu. Yang ada hanya rasa sakit, dan bagaimana cara menghentikan rasa sakit itu secepat-cepatnya.

Dan, betapa subyektifnya rasa sakit itu. Bagi seseorang yang terdiagnosis depresi secara klinis, cuaca buruk atau bunga yang membusuk di atas meja bisa jadi cukup untuk memicu rasa sakit paling buruk. Bagi seseorang dengan Post Traumatic Stress Disorder, bunyi kembang api di malam Tahun Baru bisa cukup untuk memicu kembalinya rasa takut, yang pada gilirannya memicu rasa sakit. Bagi seorang siswa yang di-bully, suara tawa siswa lain yang bertubi-tubi menertawakan penampilannya atau caranya berbicara bisa jadi terlalu berat untuk ditanggungnya lagi.

Memiliki keinginan untuk bunuh diri, seringan apa pun, bukan soal kebodohan. Atau keegoisan. Persoalannya ada pada perasaan negatif yang teramat kuat. Bunuh diri adalah soal perasaan kehilangan harapan. Perasaan ditinggalkan, tidak dikehendaki. Perasaan menjadi bukan siapa-siapa. Bunuh diri adalah perkara dibutakan, ditulikan oleh rasa sakit yang tidak dapat dibagi kepada orang lain. Bunuh diri adalah perkara merasa tercekik oleh kesunyian yang menyakitkan, begitu gelap sampai-sampai rasanya ada bisikan-bisikan dalam telingamu. Atau, justru sebaliknya, diselamatkan dari kesunyian hanya untuk ditinggalkan lagi.

Saat ini, saya sudah lebih baik. Meski saya masih menganggap masa SMP dan SMA sebagai periode paling setan dalam hidup saya, masa kuliah saya jauh lebih menyenangkan. Dan sekarang, ketika saya sudah lulus, sudah bepergian ke banyak tempat, sudah bekerja jauh dari rumah selama nyaris 3 tahun, dan akhirnya memiliki seorang pacar yang waras isi kepalanya, segalanya tampak jauh lebih benderang.

Saya berharap, kenalan saya itu akan membaca tulisan ini. Tidak, tidak, saya tidak beranggapan bahwa ia sepenuhnya salah. Kami memiliki sudut pandang yang berbeda, dan bagaimanapun, we are never in each other’s shoes. Saya senang dia tidak perlu mengalami perasaan seperti itu pada masa-masa tersulitnya, dan saya berharap dia tidak akan pernah harus merasakannya. Yang ingin saya sampaikan padanya adalah, saya pikir, yang membuat saya tidak lagi merasa ingin bunuh diri di hari-hari sekarang ini, meski masih ada begitu banyak yang bisa terjadi dalam hidup ini, bukanlah karena saya sudah jadi pribadi yang jauh lebih pintar. Atau lebih tidak egois.

Saya kira, alasan sederhananya adalah karena saya sudah lebih banyak melihat dunia. Dan, syukurlah, hal itu membuat saya lebih bahagia.

https://wordsforsociety.files.wordpress.com/2014/09/auto-9gag-1200321.jpeg?w=600&h=429sumber gambar

Jalu

https://i2.wp.com/www.psikologiku.com/wp-content/uploads/2014/12/Identitas-Gender.jpg
sumber gambar

Selalu ada hal-hal remeh yang lewat dari perhatianmu, namun suatu hari akan menentukan arah hidupmu. Apakah kelak kau akan jadi pahlawan, orang brengsek, atau makhluk kebingungan di antaranya.

“Mas Yosef, bisa lihat, nggak, semut-semut itu hitam atau merah?”

Pertanyaan Jalu itu tak pernah kulupakan. Lebih daripada aku mengingat kebul asap rokoknya, atau malam aneh percakapan kami di samping gerbang gereja. Lampu jalan di atas kepala kami berkedip-kedip ribut, semacam penerangan di kawasan zona merah. Mataku sakit gara-gara itu.

Ada sarang semut di pojokan pilar gerbang.

“Nggak kelihatan, Jalu,” jawabku waktu itu.

Mengingat malam itu, aku sering sedih. Karena Jalu, sebagian besar. Kami tak pernah berbicara satu sama lain lagi setelahnya. Tapi aku juga bersedih, sebab malam itu adalah pertama dan terakhir kalinya dalam hidupku aku sempat memperhatikan semut.

Kata John Green, pengarang jagoan itu, waktu adalah sesosok makhluk jalang.

Yah.

Kupijat pelipisku sendiri. Istriku sedang melambai-lambaikan selembar kertas karton raksasa di mukaku. Ikal rambutnya yang sudah mulai merosot bergoyang-goyang. Mulutnya bergerak-gerak seperti ikan arwana kami, lalu gerakan itu terputus di tengah dengan tiba-tiba. Di titik ini, ia bergidik sedikit. Lalu diam. Hidungnya berkerut, seperti jika menemukan ikan yang kurang segar di supermarket.

“Apa?” sahutku. Lebih karena tidak menyimak.

Hidung istriku semakin jelek bentuknya. Tangannya mulai mengetuk-ngetuk judul besar-besar yang ditulis tangan di bagian atas karton itu.

“Apa?”

Aku memilin-milin ujung plastik mika yang menutupi taplak meja makan. Bunyinya mengiris-iris dua jempolku. Istriku menyodorkan sebuah spidol besar. Ia mengetuk karton dengan ujungnya yang bertutup. Ketuk, ketuk, ketuk. Di bawah judul karton itu, sudah ada berderet tanda tangan orang-orang lain dalam tinta hitam dan biru. Aku menyipit.

“Kupikir Tuhan itu seperti kita sekarang.” Jalu merapatkan lututnya yang terbalut jins biru muda, sementara suaranya keluar halus sekali. Sehalus pelintiran asap putih dari mulutnya. “Dia menciptakan orang berbeda-beda, dan Dia tahu sekali bedanya, tapi Dia menggelapkan lampu jalan. Supaya buat Dia, perbedaan itu nggak tampak. Jadi Dia bisa adil.”

“Maksud kamu, Tuhan buta?”

Jalu tersenyum, sedikit malu-malu, tangannya yang bebas menyelipkan helai rambutnya yang di-rebonding ke belakang telinga. “Kadang kupikir Dia sengaja. Aku buktinya. Orang sepertiku bisa ada di sini, itu apa namanya kalau bukan buta?”

Istriku menggebrak meja. Aku tersentak. Bunyi mengembik yang keluar dari tenggorokanku menyatu dengan derak robekan plastik.

“Apa?” kataku bodoh.

Istriku mengeluarkan bunyi menggeram.

\Aku akhirnya menunduk. Membaca. Dahiku berkeringat, masuk ke mata. Tulisan judul di atas karton itu berbunyi: Petisi. Kami, orangtua siswa SMA Nullicedo, menolak penerimaan calon siswa gay di sekolah anak-anak kami.

Aku meneguk ludah yang tak ada.

Aku tak pernah berbicara dengan Jalu. Aku hanya sering melihatnya. Aku banyak tutup mulut sebab merasa harus demikian. Persekutuan doa kami tak terlalu kecil juga tak terlalu besar – kurang lebih tiga puluhan orang – hanya aku bukan tipe orang yang suka mengendus sana-sini. Apalagi sebagai pendatang baru, yang baru bergabung dua bulan. Aku tak pernah tahu namanya sebelum malam itu. Tapi sejauh yang kudengar, tak ada yang memanggilnya Jalu.

Jalu kerap berada di meja penerima tamu, atau jadi petugas konsumsi, atau berdiri di deretan umat bagian belakang. Suaranya saat menyanyi seringkali keseleo, tapi ia selalu menyanyi dengan ekspresi sungguh-sungguh.

Aku biasanya berjalan jauh, memutari tempatnya berada.

“Mas nggak apa-apa, kan, ngobrol sebentar?”

\Mobilku sedang masuk bengkel, adikku terlambat menjemput, sedikit banyak aku kehilangan kegiatan sambil menunggu. Nasib bujangan. Sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi, menghamburkan kerikil di bawah bannya.

“Minggu depan aku pulang kampung ke Purwakarta. Mau pindah kerja,” kata Jalu. Ia mematikan rokoknya yang sudah pendek, lalu menyimpan puntungnya dengan hati-hati di dalam kotak. Memandangiku dengan ekspresi berpikir.

Ia tersenyum sedikit. “Jalu.” Disodorkannya sebelah tangannya, yang bercat kuku ungu muda.

Aku menjabatnya dengan perasaan gatal yang aneh dalam kepala. Telapak tanganku berkeringat, telapak tangannya hangat.

\Setelah itu sunyi. Perasaan gatal di kepalaku memekat. Jalan di depan kami sudah mulai sepi. Lampu merah tampak jauh sekali di seberang perempatan. Menahan desakan untuk melirik jam tangan, aku mendeham-deham.

“Udah berapa lama di persekutuan?” tanyaku basa-basi.

“Mmm,” Jalu mencubiti bagian bawah dagunya, “dua tahun. Dua tahun yang luar biasa.”

Aku mengangguk-angguk. Mengangguk adalah respon paling aman.

“Nanti, deh, Mas, kalau udah agak lama, ikut pelayanan. Senang, lho.”

“Uhm. Kamu juga?” tanyaku hati-hati.

Mata Jalu berbinar, bersamaan dengan lebar senyumnya. “Jelas. Kata Tuhan, kan, bahkan yang terkecil di antara kita, akan dijadikan yang terbesar? Dan iman sebesar biji sesawi pun bisa memindahkan gunung?”

Aku tak bisa tak memperhatikan, semakin bersemangat Jalu, semakin melengking suaranya dari warna aslinya yang ngebas.

Jalu mengambil sebatang ranting kering, lalu mulai menyodok-nyodok gundukan sarang semut di bagian tepi pilar gerbang yang mulai keropos. “Di persekutuan ini, aku merasa paling diterima orang. Lebih daripada di rumahku sendiri. Sebenarnya aku takut pulang kampung. Kadang aku mimpi buruk tentang orang-orang di sana.”

Hening.

Aku menggerakkan kakiku yang kesemutan dengan canggung. Aku tak terbiasa jadi tempat curhat orang. Dua ekor kucing di dekat pos satpam gereja bertengkar dan mengeong mengagetkan. Aku tersentak, nyaris terpeleset dari pinggir trotoar.

“Ugh,” sahutku, kecil sekali seperti tikus.

Jalu menatapku, dengan senyum berbinar yang tampak aneh di rahangnya yang kasar.

Aku berdeham lagi.

“Umm. Iya. Jadi, selama di sini, pengalaman pelayanan apa yang paling berkesan buat kamu?”

Pertanyaanku ini – pertanyaan standar seperti wawancara calon pegawai – rupanya menyalakan sesuatu di wajah Jalu. Senyumnya mengembang, hingga taraf maksimal.

“Ah. Susah jawab itu, Mas,” katanya, “tapi kalau harus pilih, mungkin waktu persekutuan pertama pas tahun kedua aku di sini. Aku masih ingat timnya. Waktu itu pemimpin pujiannya Ko Ferry.”

Jemari Jalu memainkan kotak rokoknya yang kosong. Mereknya adalah salah satu yang diiklankan oleh pria gagah yang berkuda ke mana-mana. Terlintas dalam pikiranku, benda itu tampak sangat aneh dengan gaya feminin Jalu – pakaiannya, tasnya, dandanannya, sikapnya. Biji mataku pusing.

“Itu pertama kali.” Ia melanjutkan. “Aku jadi penerima tamu. Dan aku gugup. Orang bakal mikir apa kalau lihat aku di pintu? Gimana kalau ada umat yang baru pertama kali datang?”

Jalu mengeluarkan sebatang terakhir rokok. Digulirkannya permukaannya yang putih pada bagian dalam jari-jarinya.

“Waktu itu, kita lagi kumpul berdoa sebelum mulai. Ko Ferry nanya, gimana perasaanku. Kubilang aku takut. Dan Ko Ferry bilang begini: ‘Nggak usah takut, dong. Di sini semuanya sama-sama anak Tuhan, sama di hadapan Tuhan. Pelayanan, kan, untuk Tuhan. Kalau ada yang harus kamu takutin, itu gimana Tuhan lihat kamu, bukan gimana manusia lihat kamu.’”

Jalu mengeluarkan sebuah pemantik otomatis dari saku tasnya. Sembari memegang rokoknya dengan dua jari, ia menyalakan pemantik itu dan memperhatikan nyala apinya. Belum juga disulutnya rokok itu.

“Pernah nggak, Mas, merasa kotor sekali, sampai rasanya menarik napas pun nggak pantas? Aku pernah, dulu. Rasanya mau mati. Rasanya aku hidup pun udah sebuah kesalahan besar.” Api itu oranye, menari-nari di depan hidungnya. “Cuma di sini, dan berawal dari sini, aku merasa nggak lagi jadi kotoran dunia. Aku merasa Tuhan sayang aku, aku yang sebagaimana Dia menciptakan aku.”

Jalu menjepit rokok itu. Didekatkannya apinya. Menyala. Jalu mengisapnya dengan perlahan-lahan, lalu mengembuskan napasnya ke langit yang malam itu sepi. Asapnya seolah bergabung dengan awan-awan yang jadi tabir penghalang sinar bintang.

“Mas Yosef,” katanya pelan, “bisa lihat, nggak, semut-semut itu hitam atau merah?”

Aku menunduk. Hanya ada kerikil di bawah sana, dan bintik-bintik hitam yang berlarian ke mana-mana.

“Ngg….”

Aku macet. Mengusir sebutir kerikil. Lalu sebutir lagi.

“Ngg. Hitam?”

Jalu tersenyum padaku.

Aku menggaruk dahiku. “Nggak kelihatan, Jalu.”

Satu kepulan lagi meluncur dari bibir Jalu.

“Nah, itu. Kupikir Tuhan itu seperti kita sekarang. Dia menciptakan orang berbeda-beda, dan Dia tahu sekali bedanya, tapi Dia menggelapkan lampu jalan. Supaya buat Dia, perbedaan itu nggak tampak. Jadi Dia bisa adil.”

Aku melindas kerikil-kerikil tak berdosa dengan tumit sandalku. Bunyinya berkeriuk, tepat agar aku tak perlu mendongak. “Maksud kamu. Nah. Apa Tuhan buta?”

Aku melirik di balik rambutku yang berantakan. Jalu tersenyum, malu-malu.

“Kadang kupikir Dia sengaja.”

Aku mengedip, beberapa kali. Kotak rokok Jalu sudah kosong. Sebuah perasaan menyesal yang aneh mendatangiku. Ada dorongan lucu di dasar dadaku, memintaku untuk menyalakan rokok dan mengembuskan asap, ke arah surga, seperti Jalu.

Rumah sepi. Rio belum pulang. Kalau tak salah, hari ini jadwalnya berlatih basket. Bulan depan akan dimulai pertandingan antar-SMA sekeuskupan. Perayaan ulang tahun keuskupan kami tahun ini digadang-gadang akan sangat istimewa. Waktu yang aneh untuk berdemo. Tapi mungkin segala sesuatunya soal mencari perhatian. Aku ingat wajah kekanak-kanakan di televisi itu. Penyanyi muda, atau bintang film atau semacamnya. Baru mau masuk SMA. Di sebuah konferensi pers, ia mengaku gay.

Aku merogoh kantung kaus poloku. Rasa-rasanya masih ada sisa rokok di dalam kotak. Masalahnya, istriku sudah menyembunyikan pemantikku entah di mana. Sudah seminggu ini benda itu tak bisa kutemukan.

Mulut istriku bergerak-gerak lagi. Matanya semakin melotot. Spidol itu tergelincir di telapakku. Malam ini langit pun tak begitu berbintang. Rasa-rasanya ada warung di belokan dekat sini yang masih buka. Mereka pasti jual korek api.

****

*) Terinspirasi pengalaman nyata penulis selama bergabung dalam persekutuan doa muda-mudi PDKK Santa Maria, Keuskupan Bandung.

Perempuan Liong

https://i0.wp.com/beritadaerah.co.id/wp-content/uploads/2015/03/66.jpg
sumber gambar

Kata Mbok Mi, pernah ada naga di rumahku.

Aku ingat, hari itu panas terik. Aku berdiri di depan kotak-kotak beras yang dipajang Babah Ahlo di tokonya, menunggu dengan hati jeri sementara Mbok Mi membungkusi kedelai dengan plastik dan karet gelang.

Mendadak, aku ingin kencing.

Mbok Mi, dengan jarit kumal, tangan kasar, dan kejudesannya, sudah selalu membuatku ngeri. Kurasa semua anak tujuh tahun tiga bulan juga akan ngeri padanya. Tapi semua pembicaraan tentang naga ini memperparahnya.

“Nanti lihat sendiri,” kata Mbok Mi. Ctar. Suara jepretan karet gelangnya membuatku terlonjak. “Tanya ibukmu itu kalau ndak percaya.”

Tenggorokanku berdeguk. Besok-besok, tak mau lagi aku kalau disuruh perempuan itu belanja di sini. Sialnya, tiga hari lagi Cap Go Meh. Saat ini perempuan itu sedang sibuk di dapur, dikelilingi bahan makanan dan segunung bumbu dapur. Tak ada yang bisa disuruh-suruhnya selain aku.

Lontong Cap Go Meh bikinan perempuan itu adalah yang paling nikmat sekota raya, dicari pejabat hingga pemadat, dari ujung timur ke ujung barat, baik Tionghoa maupun bukan. Tak ada yang lebih ditunggu warga saat Cap Go Meh selain dua hal: pertunjukan liong dan barongsai, serta lontong yang cuma dijajakan Anggun Sasmita Han setahun sekali.

“Kenapa naga?” cericitku pelan.

Mbok Mi memelototiku, lalu mengangsurkan plastik hitam dengan gerakan menggusah yang selalu dilakukannya padaku.

Maka aku pun pulang.

***

Aku takut gelap. Aku takut tidur sendiri. Kurasa, aku takut pada seisi dunia.

“Jangan tinggal aku,” aku akan berbisik pada perempuan itu. Bisikanku akan menyelip lewat celah selimut yang kutarik ke bawah dagu, bertiup melalui celah pintu yang seinci lagi tertutup sempurna, mencari jalan menuju kedua daun telinga putih milik perempuan itu.

Meski begitu, tetap saja perempuan itu akan menutup pintu. Dan, setelah itu, gelap.

Kadang, aku akan kencing di celana. Kadang, gigiku akan bergemeletuk tanpa kusuruh. Tapi pada akhirnya, aku akan memejam juga, melayang jatuh ke dalam mimpi-mimpi yang sebagian kuingini dan sebagian tidak.

Satu dari dua mimpiku adalah tentang perempuan itu.

Setibaku di rumah, kencingku sudah betul-betul di ujung. Terbirit-birit aku berlari ke kamar mandi agar jangan sampai celanaku basah duluan. Perempuan itu tak suka jika aku mengompol.

Setelah itu, masih menggenggam erat plastik yang berat, aku mulai mencarinya. Kuintip dapur. Udara berbau bawang putih dan kencur, yang sudah bersih dan siap disangrai bersama kedelai, lalu ditumbuk jadi bubuk koya gurih. Tapi perempuan itu tak ada.

“Mami…?” suaraku bergaung di dinding-dinding.

Aku lupa melepas sandal tadi. Jejak-jejak tanah berceceran di lantai dapur. Tapi tetap saja, kuteruskan mengendap-endap menuju ruang tengah.

Sesuatu dalam dadaku mengepak-ngepak. Aku rindu perempuan itu. Aku rindu melihatnya.

“Mami…? Ini kedelainya….”

Ruang tengah gelap. Meja makan gelap. Tapi di seberangku, sinar kekuningan mengintip dari bawah pintu tertutup. Pintu kamar perempuan itu.

Aku melangkah cepat-cepat, siapa tahu ada monster yang lahir di kegelapan ini dan sedang bersembunyi untuk memakanku. Syukurlah, aku sampai di pintu dengan selamat.

Nah, sekarang…. Mengetuk, atau tidak?

Ayo, putuskan cepat, Yos! Hati-hati, jangan-jangan ada monster di belakangmu!

Kuhitung jari kakiku buru-buru. Ketuk, buka, ketuk, buka….

Dengan amat pelan, kuangkat tanganku untuk meraih kenop pintu setinggi pelipisku. Dengan amat pelan, kuputar kenop itu ke kanan.

Amaaaat… pelaaaan… kreeeek….

Di dalam, tirai jendela ditutup dan lampu dimatikan. Cahaya lilinlah yang ruap-ruap. Aku hanya berani membuka pintu selebar dua senti, lalu tanpa sadar berjinjit.

Kulihat perempuan itu. Ia bersimpuh membelakangiku, garis tubuhnya berombak ditimpa api lilin yang bergoyang. Aih. Kurasakan dorongan besar di perutku; sesuatu menyuruhku merangsek masuk dan memeluknya. Tapi kurapatkan tumitku, kuluruskan lututku. Aku bergeming.

Di hadapan perempuan itu, ada bingkai foto kosong di atas meja. Sementara aku mengawasi dengan jantung mengerut, perempuan itu mengangkat selembar foto dengan kedua tangannya. Khidmat sekali, seolah di genggamannya ada hidup dan mati, ia memasang foto itu pada bingkai.

Bahu perempuan itu mulai bergetar.

Lantunan suara ganjil tiba-tiba mampir merambati kesadaranku. Suara itu menggelitik, seperti barisan semut yang menggerumiti lubang telinga; namun ia pun mengiris, seperti jarum yang menggesek kulit dada.

Kusadari, perempuan itu sedang menangis.

Lilin meredup. Mungkin terkena angin yang juga menyelinap ke balik singletku. Tapi sebelum cahaya bergeser dan aku jadi rabun, mataku sempat menangkap gambar di dalam foto. Lelaki berbaju kuning, membawa tongkat kayu panjang, dan di atas tongkat ada….

Kedua mataku membelalak.

Naga!

***

“Lusa… aku boleh pergi kelenteng, Mi?”

Aku suka Cap Go Meh. Ada kelenteng dekat sini. Mereka punya halaman luas sekali, dan jika Cap Go Meh tiba, kau bisa datang ke sana untuk menonton akrobat liong dan barongsai dari sanggar Babah Ahlo, mengagumi lentera warna-warni dan melompat-lompat untuk menyentuhnya, serta menyaksikan arak-arakan. Aku suka liong. Tubuhnya panjang, gagah keemasan, tanduknya menjulang, matanya tajam. Liong adalah tanda kebaikan dan kebijaksanaan di dunia ini.

Perempuan itu geming tak menjawab.

Aku ingin memohon padanya. Sungguh. Aku tak pernah bisa pergi ke kelenteng, walaupun itu sedang hari besar. Setiap Cap Go Meh tiba, perempuan itu akan mengunciku di rumah, sebelum pergi pagi-pagi untuk membuka kiosnya di gerbang kelenteng sampai malam. Meninggalkanku sendiri dengan duniaku yang menciut seluas layar televisi yang menayangkan pertunjukan liong dan membuatku ternganga.

Sebagai ganti jawaban, perempuan itu meletakkan piring berisi seporsi lontong di hadapanku. Uapnya mengepul. Lontong-lontong itu dipotong dadu, sisinya kehijauan, dalamnya putih bersih. Di atasnya ada sambal goreng ati ampela, sepotong besar paha ayam opor, sate telur puyuh, dan taburan bubuk kedelai. Semua itu terendam dalam kuah santan lodeh terong kuning kecokelatan.

Perempuan itu duduk di sisi lain meja makan. Ia menopang dagunya, menatap lurus ke dinding.

Perutku berbunyi.

Aku tahu, aku seharusnya makan. Habiskan, jadi anak baik, lalu perempuan itu akan menggiringku ke kamar mandi dan meninggalkanku untuk mandi sendiri.

Aku memandangi sisi wajahnya.

“Suapin aku, Mi….” bisikku pelan. Perempuan itu menoleh, lalu menatapku. Mata kami bertaut.

Hening. Mata kami terus bertaut.

Kuambil sendokku.

***

Dingin.

Kata Engkong, saat ia masih suka memangkuku dulu, Cap Go Meh adalah waktunya bulan baru. Bulan akan hilang dari langit, mogok menyinari bumi pada malam hari. Mungkin karena itu malam ini sangat dingin.

Aku ingin dipeluk. Ingin sekali. Aku bosan hanya dipeluk dalam mimpi.

Perempuan itu tak pernah mau diganggu saat malam Cap Go Meh. Ia akan menutup pintuku lebih cepat, lalu tak kelihatan lagi hingga esok pagi.

Saat menurunkan kakiku ke lantai, aku merinding. Teringat perkataan Mbok Mi tadi siang, saat aku terpaksa kembali lagi untuk membeli gula.

“Hati-hati, ibukmu piara naga,” bisiknya parau. “Awas, nanti kamu dimakan.”

Selain takut gelap, aku juga takut api. Di perut naga, pasti banyak api. Lututku mulai terasa selembek tahu.

Aku mengendap-endap lagi menuju pintu. Mungkin, mungkin malam ini perempuan itu mau membukakan pintu dan memelukku. Mungkin, mungkin besok perempuan itu mau membawaku ikut bersamanya, melihat liong dan barongsai dan festival lentera dan para pendekar silat. Mungkin, mungkin besok sore perempuan itu mau menyuapiku. Mungkin, mungkin sesungguhnya memang tak ada yang namanya naga di dunia ini. Mungkin, mungkin saja, kan?

Kubuka pintu itu, harapan lamat-lamat jadi liat di hatiku.

Aku tertegun. Kamar itu masih hanya diterangi cahaya lilin yang berdansa tanpa musik. Di atas meja, foto lelaki dan naganya masih terpampang, diapit dua lilin merah besar dalam gelas dan beberapa batang hio dengan wangi pekat menggelisahkan.

Di atas kasur, perempuan itu mengesah. Selimutnya bergerak-gerak. Bunyi gemeresak yang aneh menyertainya. Serta merta, aku mematung.

Tapi perempuan itu tak bangun. Suaranya pelan-pelan memudar, dan napasnya kembali teratur. Di atas bantal, rambutnya yang panjang tergerai.

Gemetar, kuulurkan jemariku. Samar-samar, sepotong kenangan mengintip di balik kelopak mataku. Tirai rambut hitam yang harum, menggelitik hidungku, pipiku, wajahku. Aku tertawa, membelitkannya di jariku, menciuminya…. Apakah itu aku? Atau anak lain dalam mimpiku?

Kutarik lagi tanganku. Alih-alih, aku duduk di lantai yang dingin, mengamati hela napas yang naik turun.

Satu lengan perempuan itu menjulur di atas selimut. Jemarinya yang berkuku mengilap memegang sehelai robekan kertas koran kekuningan. Huruf-hurufnya begitu kecil. Aku memicingkan mata, mengejanya pelan-pelan sambil menggigit bibir.

“Obi… obitu… obituari….”

Candra Purnama Tan

17 Maret 1980 – 2 Februari 2009

Api boleh merenggutmu, tapi cinta kami akan selalu membara untukmu.

Yang ditinggalkan:

Istri – Anggun Sasmita Han

Anak – Yosi Wijaya Tan

Yosi, itu namaku. Anggun, itu nama perempuan itu.

Candra itu siapa?

Ada foto hitam putih di atasnya. Seorang lelaki tersenyum. Lelaki yang sama berfoto di atas meja.

Di rumahmu, pernah ada naga.

Dari celah ventilasi, angin menjilat tubuhku. Lilin-lilin bergoyang. Kurasakan diriku bergidik. Mungkin perempuan itu takkan keberatan jika aku ikut masuk ke balik selimut. Ya, kan? Toh, aku belum pernah melakukannya. Aku takkan mengganggunya. Aku cuma ingin hangat, dan ingin di dekatnya. Itu saja. Mungkin dia takkan marah kalau hanya begitu saja.

Maka kusibak selimut itu, dan kuangkat sebelah lututku untuk naik ke ranjang.

Tapi lututku melayang di udara.

Sekejap, aku nyaris menjerit. Tapi lalu kusadari, itu bukan naga betulan. Itu cuma kepala liong berwarna kuning emas. Bukan liong yang gagah pula. Kepala itu tercabik dari badannya. Puntung lehernya menghitam gosong seperti jelaga, begitu pula satu tanduk dan sebagian besar sisi wajahnya.

Liong jelek. Kenapa perempuan itu tidur bersama liong jelek ini?

Perlahan, kuturunkan lututku. Kuletakkan kembali ujung selimut itu. Dengan ujung telunjukku, kubelai rambut hitam yang tergerai di depanku. Halus. Sejuk.

Kurasakan kedua mataku panas seperti pantat setrika.

Mbok Mi benar. Naga memang betul-betul ada di dunia. Dan naga itu tinggal di rumahku.

Tapi aku benci naga.

 ***

Catatan Penulis

– 9.992 karakter dengan spasi, tidak termasuk judul dan catatan kaki ini.

– Cap Go Meh: salah satu perayaan keagamaan dan budaya dalam tradisi Tionghoa. Merupakan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, yang menjadi penutupan perayaan Imlek sekaligus hari pertama bulan baru.

– liong: tiruan naga besar untuk pertunjukan pada arak-arakan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Liong berarti naga. Terbuat dari rangka bambu dan kertas, memiliki kepala naga, badan ular, sisik ikan, tanduk rusa, dan taring serigala. Dimainkan oleh beberapa orang yang memiliki keahlian bela diri dengan cara ditopang menggunakan tongkat-tongkat kayu. Melambangkan kebaikan dan kebajikan.

– barongsai: barongan Cina yang biasa dipertunjukkan pada Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Barong dari kata barongan (tradisi lokal Indonesia), sai artinya singa. Terbuat dari rangka bambu dan kertas, dimainkan oleh dua orang yang memiliki keahlian bela diri dan akrobatik. Diberi “makan” oleh penonton berupa angpau, amplop kecil berisi uang.

– lontong Cap Go Meh: makanan khas perayaan Cap Go Meh di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Merupakan makanan peranakan dengan pengaruh budaya Jawa yang kuat. Terdiri dari campuran lontong, sambal goreng ati ampela, lodeh sayuran, sate, opor ayam, ditaburi bubuk kedelai gurih.

– 2 Februari adalah tanggal jatuhnya perayaan Cap Go Meh pada tahun 2009.

Puppy Love

Anak anjing pertama saya mati mengenaskan.

Saya tidak menyangka. Saya baru mengadopsinya selama dua minggu. Usianya baru dua bulan kurang satu hari. Saat itu, karena masih bodoh dan tak punya akses kepada dokter hewan, saya terpaksa menontonnya muntah-muntah, mencret, tidak mau makan, beratnya berkurang setengahnya dalam tiga hari, lalu akhirnya berak darah dan tamat. Rasanya seperti sedang menonton kedatangan malaikat pencabut nyawa, in slow motion.

Saya juga tidak pernah menyangka, kehilangan seekor puppy bisa begitu parah rasanya. Hell, it was just a puppy! Anjing “kampung” lagi, dapatnya juga dikasih bukan beli.

But that was what happened, literally. Saya berdukacita untuk Bhisma lumayan lama – macam kehilangan anak sendiri. Dan sekarang, saat memutuskan punya anak anjing lagi, saya jadi paranoid.

Sometimes we cannot predict just how much we can love. Or what we can love that much.

Puppy saya yang sekarang saya beri nama Amba, seperti nama seorang putri dalam kisah Mahabbharata yang nantinya bereinkarnasi menjadi Srikandi. Alasannya, agar ia jadi anjing yang setia dan loyal, seperti Amba setia pada sumpahnya untuk membalas dendam. Itu pula alasan saya memberi nama Bhisma untuk anjing yang sebelumnya. Bhisma pun seorang tokoh wayang yang bersumpah tidak menikah seumur hidup demi menghindari perebutan tahta di masa depan antara keturunannya dan keturunan adiknya yang diberinya hak waris.

Meski sebetulnya, tanpa nama-nama seperti itu pun, ratusan tahun hidup berdampingan dengan manusia membuktikan anjing memang makhluk yang setia. A (wo)man’s best friend.

WP_20151222_17_46_18_Pro
Ini AMBA

Sejak punya Amba yang cakep karena bulunya hitam legam dan posturnya langsing, saya jadi suka jalan-jalan ke Instagram, mengikuti beberapa tagar seputar dunia anjing peliharaan. Saya jadi tahu istilah-istilah seperti mongrels atau mutts. Jadi, mongrels atau mutts adalah istilah yang dipakai untuk menyebut ras atau breed anjing yang berasal dari kawin campur macam-macam keturunan hingga tidak jelas lagi rasnya apa. Lawan dari mongrels adalah pure breed. Mongrels sering digunakan sebagai eufemisme dari istilah “anjing kampung”, karena kenyataannya anjing “kampung” memang bermacam-macam penampilannya, sehingga kemungkinan mereka adalah hasil perkawinan silang menyilang. Saya pun jadi paham bahwa ada, lho, pencinta anjing, baik di luar negeri maupun di Indonesia, yang memang lebih memilih mengadopsi anjing lokal, mongrels, atau setidaknya mixed breed (hasil kawin campur antara dua anjing pure breed yang berbeda ras), daripada anjing ras yang mahal-mahal itu. Mereka juga sering mengampanyekan bahwa sebagai dog lover betulan, daripada sengaja membeli anjing dengan harga mahal, mengapa tidak mengadopsi anjing-anjing yang memang butuh rumah atau ditelantarkan? Kalau kata mereka, anjing saja sayang manusia tidak pandang ras. Tagar yang sering mereka gunakan di Instagram antara lain #mongrelsareawesome, #mongrelsoftheday, #muttskickbutts, #vivaanjinglokal, #supportlocaldogs, #saveourstreetdogs, #adoptdontshop, #adoptdontbuy, dsb.

Saya mulai suka mem-posting foto-foto Amba dengan menyertakan tagar-tagar itu juga. Iya, saya juga kepengin pamer, seperti pemilik-pemilik anjing ras yang gaya itu. Having a dog is like a lifestyle, I suppose. Saya perhatikan, para pencinta mongrels di Instagram itu juga suka mendandani anjing mereka dengan aksesoris. Ada bandana, baju, sampai collar lucu-lucu. Sayangnya Amba jarang bisa diam saat difoto.

Sebenarnya kalau mau jujur, dari kacamata orang biasa yang tahunya anjing yang dianggap layak pamer adalah anjing-anjing hias berbulu panjang yang di-grooming teratur, Amba, sih, mana ada apa-apanya. Dari ujung hidung sampai ujung ekor, rupanya sama saja seperti anjing-anjing yang suka menggali tempat sampah di komplek-komplek perumahan. Bedanya hanya bulunya halus dan hitam mengilap, serta selalu bersih dan wangi, karena setidaknya saya berusaha memandikannya secara teratur dengan sampo khusus anjing. Selain agar tidak bau dan tidak kusam, juga agar bebas kutu. Kutu anjing itu, apalagi yang besar-besar model caplak, benar-benar makhluk menjijikkan. Tapi, saya masih harus berusaha keras untuk meyakinkan diri bahwa Amba itu cakep, misalnya saat jalan-jalan lalu ketemu dengan anjing campuran berekor air mancur milik tetangga (yang sebenarnya rasnya sudah campur-campur juga).

Ada yang sama seperti saya? Mau punya anjing. Penginnya anjing ras yang cantik, tapi tidak kuat, either di dompet atau di waktu (atau niat?) mengurus. Jadi yang ada saja. Dirawat, sih, dirawat, tapi dalam hati kena sindrom minder juga.

Sometimes it’s hard for us humans to love, just because. More often than not, we love for granted. Even subconsciously.

WP_20151222_17_52_07_Pro

WP_20151224_14_49_35_Pro

WP_20151223_06_31_46_Pro

pose-pose favorit AMBA

Waktu saya pertama kali membawanya pulang, bagian perut, kaki belakang, dan pantat Amba botak-botak terkena penyakit kulit yang lumayan parah. Sepertinya bawaan dari induknya. Belum lagi kutu dan cacingan. Waktu itu saya sudah telanjur memilih saat Amba dan saudara-saudaranya masih berumur seminggu, sehingga saat tiba waktunya mengambil, cuma tersisa Amba yang kurus (kurang diurus) dan satu saudara cowoknya.

Karena saya berprinsip “kau sudah memilih, maka bertanggungjawablah”, keadaan itu (terpaksa) saya terima. Mulailah perjuangan saya mengobati Amba. Yah, belum-belum sudah repot. Padahal kalau beli anak anjing di petshop, mana ada model begini. Anjing sakit tidak akan pernah dijual. Bisa-bisa dianggap menipu. Posisi saya yang sedang bekerja di salah satu kabupaten kepulauan di Sulawesi Utara membuat saya harus susah payah menyuruh orang mencari obat khusus di Manado (yang petshop­-nya tidak lengkap, sial), lalu mengubek-ubek situs ­e-commerce setelah tanya sana-sini, belum lagi ongkir yang mahal. Akhirnya saya mengobati sakit kulit Amba dengan obat manusia, yang bahan aktifnya sama. Untung saya bekerja sebagai dokter (manusia), sehingga tidak bego-bego amat.

Akhirnya Amba sembuh. It took a whole month. Lalu tiba saatnya vaksinasi. Saya bertekad Amba HARUS divaksinasi, sebab Bhisma dulu mati karena penyakit yang sebetulnya bisa dicegah dengan vaksinasi – demi Tuhan, saya sudah kapok. Kembali saya harus menyuruh orang untuk membawa Amba ke Manado begitu memungkinkan, sebab gara-gara sakit kulitnya itu, Amba sebenarnya sudah ketinggalan jadwal.

Ketika cerita soal kerepotan saya mengurus Amba sampai ke telinga orang-orang di sini, biasanya mereka akan tertawa. Mulai dari menertawakan harga sampo Amba (tapi harga segitu tahan lama sekali, lho, Amba kan kecil), usaha saya membawanya ke Manado (kata mereka, seperti merujuk pasien manusia saja), makanan Amba (saya tidak pernah dan tidak mau memberi Amba makanan sisa), dan sebagainya. Lucunya, saat melihat bahwa Amba berbadan lebih besar dari saudara-saudaranya yang lain, bulunya bagus, bebas kutu, posturnya bagus, mereka juga suka kagum. Saat melihat bahwa Amba sudah bisa duduk dan berguling, bisa diam saat menunggu makanannya, mereka bilang Amba pintar.

Saya jadi heran. Yah, kalau tidak saya usahakan, Amba tidak akan bisa begitu, dong :/ Seperti kata Caesar Millan, the dog whisperer: Sesungguhnya, tidak ada anjing yang bodoh. Adanya owner atau pelatih yang kurang berusaha.

Kalau mengingat bahwa orang-orang di sini sering menggebah, membentak, atau menendang anjing mereka sendiri karena tidak bisa diatur….

WP_20151220_07_51_35_Pro

AMBA baru tahu mainan ini bisa bunyi setelah sudah agak besar dan kuat menggigit

Sekarang usia Amba empat bulan lewat. Sehat meski agak pilih-pilih makanan, lincah, manja, super nakal. Kalau ada kucing lewat, Amba selalu lari untuk mengejar dan menggonggongi, biarpun dia sedang sibuk makan. Dia masih harus dibawa ke Manado lagi Januari ini, untuk follow up vaksin.

Suatu hari, dia sedang bermain-main. Namanya puppy, segala macam pasti digigiti. Kali ini, dia meloncat, dan hidung saya kena. Sakitnya luar biasa. Saking jengkelnya, tangan saya pun melayang, memukuli Amba. Sampai dia menjerit-jerit.

Beberapa menit kemudian, saya merasa seperti orang paling jahat di dunia. Kenapa? Karena beberapa saat setelah itu, seolah lupa atau sudah memaafkan, Amba sudah mendekati saya lagi. Ndusel-ndusel, minta dibelai, minta dipangku, menjilati tangan saya. Masih gigit-gigit, sih, tapi pelan-pelan.

Just like the saying goes: bagimu, anjingmu mungkin cuma seekor anjing. Tapi bagi anjingmu, kamu adalah seluruh dunianya.

Can we say the same for the way we love?

Ah, semoga Amba panjang umur….

WP_20151229_08_06_40_Pro

Nerdy AMBA says HI!

Iman & Agama(-Agama): Bagaimana Saya (Berusaha) Memahaminya


sumber gambar

Sudah lama saya merasa bahwa penting untuk menuliskan hal ini, tetapi baru sekarang keberanian untuk itu datang.

But. First of all, saya bukan seorang teolog.

And the second is, tulisan ini adalah sebuah hasil kontemplasi pribadi, pengalaman berpikir dan merasa pribadi yang ingin saya bagikan pada orang lain – siapa tahu berguna. Jadi, bila setelah membacanya Anda merasakan dorongan untuk melontarkan komentar bernada hate speech, bigotry, atau bentuk-bentuk penghakiman lainnya, alih-alih memancing diskusi yang baik dan menyenangkan – well, please don’t waste your energy. Saya tidak akan ambil pusing, dan lagipula komentar di blog ini dimoderasi.

Sedikit latar belakang. Seumur hidup, saya seorang Katolik. Ada suatu masa dalam hidup saya di mana saya yakin, orang-orang yang tidak percaya pada Yesus Kristus tidak akan masuk surga. Untungnya, masa-masa itu sudah lama berlalu. Setelah masa itu, timbullah sebuah periode evolusi yang baru: periode kegelisahan.

Mungkin Anda pernah merasakan kegelisahan yang sama dengan saya. Mungkin Anda pernah pula merasakan berada dalam sebuah roller coaster iman, yang pada suatu titik menggaungkan suatu pertanyaan mahabesar:

Bagaimana mungkin Tuhan tega memasukkan orang-orang baik ke neraka – orang-orang baik yang diciptakan-Nya sendiri sesuai gambar-Nya – hanya karena mereka tidak seagama dengan saya?


sumber gambar

Like, seriously. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang baik, dan pada saat itu yang penting bagi kita adalah mereka orang baik. Titik. Apa iman dan agama mereka menjadi tidak, atau kurang, relevan saat kebaikan mereka sedang kita rasakan. Semakin tidak relevan lagi seandainya teringat oleh kita, tepat pada saat itu juga: mungkin, ada suatu interpretasi tertentu dalam doktrin iman kita yang membuat mereka, orang-orang baik itu, pada akhirnya harus masuk neraka juga. Well, that’s just so ridiculous! Don’t you think so? I really do. Bagi saya, hal itu sulit untuk masuk di akal.

Kenapa pula harus ada banyak agama? Ini juga perkara membingungkan. Ada orang yang secara sederhana percaya konsep totalitarianisme dalam klaim kebenaran: agama saya benar, yang lain salah. Biasanya ini terjadi pada orang-orang yang memeluk agama “langit”, agama yang diwahyukan. Dan ini jadi masalah, karena seringkali ujung-ujungnya jadi menghakimi. Ada pula yang percaya konsep relativisme: menyimpulkan bahwa pada dasarnya semua agama itu sama baiknya. Banyak jalan menuju Roma. Silakan pilih yang mana saja. Lagi-lagi ini jadi masalah: berarti orang yang beragama A alih-alih B sedang melakukan sesuatu yang useless, karena toh semuanya sama saja.

Ka-Boom!

https://steve4040.files.wordpress.com/2012/11/faith.gif?w=690sumber gambar

Saya tidak tahu persis bagaimana prosesnya. Tapi, pada suatu titik, perjalanan berpikir saya berhasil menuntun saya kepada suatu versi jawaban yang saya rasa paling ramah, paling fair, dan paling realistis pula: ini semua perkara keunikan.

Saya percaya bahwa iman pada dasarnya adalah panggilan. Dalam iman Katolik, hal ini juga diajarkan: Tuhan yang memanggil manusia kepada-Nya, bukan sebaliknya. Iman itu given, bukan murni pilihan manusia. Dan karena ia given, karena ia diinisiasi oleh Tuhan, maka ia diberikan sesuai dengan keunikan pribadi masing-masing penerimanya.

Iman, bagi saya, adalah pemberian yang unik dari Tuhan (atau Allah, atau YHWH, atau Semesta, atau The One, atau apa pun sebutannya). Dan ia spesifik. Orang yang beragama Kristen menghayati iman Kristen karena Tuhan memanggilnya dengan cara demikian, cara unik dan spesifik yang hanya cocok untuknya saja dan mampu dijawab oleh dirinya sendiri saja. Begitu juga orang yang beragama lain: Islam, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, “aliran kepercayaan”, agnostik, dan sebagainya. Di antara sesama orang Kristen atau Islam pun, setiap orang akan punya perjalanan spiritual yang berbeda-beda.

Atau bahkan bagi para ateis. Ya, saya percaya bahwa para ateis pun punya panggilan masing-masing, karena ada banyak orang ateis yang baik hatinya. Mungkin lebih baik dari kita yang mengaku teis ini.

Dalam konsep iman yang unik dan spesifik inilah, menurut saya, ia menjadi tidak bisa dibanding-bandingkan, tidak bisa juga dinilai, oleh kita yang menerimanya. Bagaimana caranya kita bisa menilai sesuatu sebagai baik atau buruk, lebih atau kurang, bila hal yang dibandingkan itu berbeda-beda? Apa standarnya? Satu-satunya yang bisa kita bandingkan adalah output­-nya: bagaimana tindak-tanduk kita dalam masyarakat, bagaimana cara kita memperlakukan orang lain, apa kontribusi kita demi kebaikan bersama, bagaimana kita menciptakan damai di bumi.

Dan terkait dengan teori relativitas: bahwa semuanya pada dasarnya sama baiknya, sehingga memilih yang mana pun sama saja? Engg, sejujurnya saya juga tidak bisa setuju dengan pendapat itu. Kalau iman itu unik dan spesifik, artinya bagi tiap-tiap orang yang menerima dan menjawab panggilannya, iman itu adalah sesuatu yang whole. Utuh. Penuh. Lengkap, seperti lingkaran. Spesial, seperti kado ulang tahun dari orang kesayangan. Pernyataan “semuanya sama saja” mengandaikan suatu kondisi di mana bagian-bagian dari “semuanya” itu bisa diukur dan diperbandingkan, seperti potongan-potongan sebuah kue tar. Tapi bila masing-masing dari bagian-bagian itu adalah utuh dan penuh dan unik ke dalam dirinya sendiri, usaha membandingkannya akan menjadi sia-sia.

https://i0.wp.com/izquotes.com/quotes-pictures/quote-i-ve-come-to-believe-that-each-of-us-has-a-personal-calling-that-s-as-unique-as-a-fingerprint-and-oprah-winfrey-288328.jpgsumber gambar

Saya tidak tahu bagaimana menutup tulisan ini. Tapi ada satu kalimat tanya dalam Injil yang terus menerus terngiang dalam kepala saya. Kalimat ini disampaikan oleh Pontius Pilatus saat Yesus dihadapkan kepadanya oleh bangsa Yahudi untuk diadili. Ia bertanya pada Yesus, “Apakah kebenaran itu?”

Dalam konteks pertanyaan itu dan ocehan yang berusaha saya sampaikan barusan, sesungguhnya saya merasa, dalam hidup ini, masing-masing dari kita adalah Pilatus-Pilatus kecil yang sedang bertanya.

Really, not much more than that.


sumber gambar

Remaja, Seks, HIV/AIDS, dan Ke(sok)naifan Kita

Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa moralitas adalah jalan keluar terbaik bagi segala permasalahan dalam masyarakat kita. Hanya orang-orang yang keterlaluan (sok) naifnya yang akan mengatakan demikian.

Mari kita cermati beberapa catatan dan fakta menarik di bawah ini, saya kutip secara langsung dari sumber aslinya (cetak tebal dan keterangan dalam cetak miring dari saya).

Direktur Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi, Prof. Biran Affandi, mengungkapkan, sekitar 2,1-2,4 juta perempuan setiap tahun diperkirakan melakukan aborsi, sebanyak 30% di antaranya oleh remaja. Ujung-ujungnya, cara aborsi terpaksa ditempuh kalangan remaja untuk menggugurkan kandungannya. “Seringkali dilakukan dengan cara-cara tidak aman, seperti memijat, minum jamu, dan memasukkan benda ke dalam jalan lahir.” – sumber dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

“Sebuah fakta cukup mengejutkan, yakni sekitar 40 persen remaja berusia 15-19 tahun belum menikah sudah berhubungan seksual,” ungkap Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, dr. Julianto Witjaksono, SpOG, KPER, MGO. – sumber dari BKKBN

Remaja yang hamil lebih mungkin mengalami komplikasi dalam kehamilan yang seringkali mengakibatkan kematian ibu. Kehamilan remaja adalah masalah yang serius, sebab komplikasi dari kehamilan dan persalinan adalah sebab utama kematian pada remaja putri usia 15-19 tahun di negara-negara berkembang. Diperkirakan, 70,000 remaja perempuan meninggal setiap tahunnya akibat kehamilan yang terjadi ketika tubuh mereka belum cukup matang untuk menerimanya. Komplikasi pada kehamilan remaja a.l. persalinan prematur, anemia, tekanan darah tinggi dalam kehamilan (atau “kehamilan beracun” dalam istilah awam, dapat berujung pada kejang-kejang dan kematian ibu maupun bayi), infeksi saluran kencing, infeksi pasca persalinan, tingginya angka operasi caesar akibat ketidaksesuaian ukuran panggul ibu-kepala bayi atau gawat janin, ketuban pecah sebelum waktunya, berat badan janin rendah, bayi lahir mati, perdarahan dalam masa kehamilan, dsb. – diterjemahkan dari sumber jurnal

Secara umum, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia medio tahun 2013 mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup dengan Angka Kematian Bayi (AKB) 32 per 1.000 kelahiran hidup. Angka itu menempatkan Indonesia berada di peringkat kedelapan jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. (catatan: target Millenium Development Goals yang harus dicapai di tahun 2015 adalah 102 per 100 ribu kelahiran hidup untuk AKI dan 22 per 1.000 kelahiran hidup untuk AKB) – sumber dari BKKBN

Dari Survei Dasar Kesehatan Indonesia Remaja tahun 2007, pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi masih rendah. Sebanyak 21% remaja perempuan tak mengetahui perubahan fisik remaja lelaki puber. Bahkan, hanya 29% remaja perempuan dan 32% remaja lelaki mengetahui seorang perempuan berpeluang hamil pada pertengahan siklus periode haid. – sumber dari BKKBN

sumber gambar

sumber gambar

Mulai lelah membacanya? Oh, wait, there’s more:

Berdasarkan faktor risiko, infeksi HIV dominan terjadi pada heteroseksual (surprise!), diikuti kelompok “lain-lain”, pengguna napza suntik (penasun), dan kelompok “Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki” (LSL). Berdasarkan kelompok berisiko, kasus AIDS di Indonesia paling banyak terjadi pada kelompok heteroseksual (surprise again!) sebesar 61,5%, diikuti pengguna narkoba injeksi (IDU) sebesar 15,2%, dan homoseksual (2,4%). – sumber Kemenkes RI

Infeksi HIV yang dilaporkan pada tahun 2014 (hingga bulan September, bulan terakhir sebelum data tsb. dipublikasikan) untuk kelompok umur 15-19 tahun sebanyak 813 kasus dan kelompok usia 20-14 tahun sebanyak 3.587 kasus. Kasus AIDS yang dilaporkan sejak 1987 sampai September 2014 terbanyak pada kelompok usia 20-29 tahun, diikuti kelompok usia 30-39 tahun dan 40-49 tahun (waktu yang dibutuhkan sejak paparan virus HIV terjadi hingga berkembang menjadi AIDS adalah 10-15 tahun, maka kita dapat memperkirakan pada rentang usia berapa mayoritas kasus tersebut terinfeksi). sumber Kemenkes RI

Okay, let’s take a break from numbers. Sekarang kita akan beranjak pada beberapa cerita yang lebih personal, yang saya hadapi sendiri selama 16 bulan terakhir bertugas sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di salah satu puskesmas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Saya sedang melewati salah satu desa, dibonceng motor seorang teman. Teman ini bekerja sebagai guru honorer di SMP setempat. Dia menunjuk sebuah rumah, lalu bercerita bahwa salah satu murid perempuannya yang tinggal di situ keluar dari sekolah saat kelas 2 SMP karena hamil. Yang menghamilinya siswa kelas 3 SMP, satu sekolah. Keduanya langsung ditarik dari sekolah oleh orangtua masing-masing. Saya tanya, lho, lalu sekarang mereka berdua ngapain? Kerja? Jawab teman saya, ya, gitu-gitu aja. Habis mau ngapain, sudah nggak sekolah.

Sebut saja namanya Melati. Usianya 21 tahun, sedang hamil anak ketiga. Dia masuk UGD Puskesmas dengan luka bacok di jari karena parang. Suaminya, yang sedang mabuk, mengayunkan parang itu padanya. Setelah menangani Melati, saya bercerita sambil marah-marah pada perawat jaga soal betapa saya benci kasus KDRT yang gila seperti ini. Lalu perawat itu berbagi cerita. Ini bukan pertama kalinya terjadi pada Melati. Dulu Melati juga pernah diserang, tapi berdamai kembali. Semua orang menyuruh Melati cerai saja, tinggalkan saja lelaki gila itu, tapi itu tidak terjadi. Melati menikah dengannya di usia remaja setelah hamil lebih dulu. Melati putus sekolah. Lelaki itu bekerja sebagai buruh serabutan. Mereka masih menumpang tinggal di rumah orangtua Melati, yang juga tidak berduit banyak dan tidak bisa menghidupi Melati lagi. Melati sepenuhnya tergantung pada suaminya yang gila itu.

Sebut saja namanya Bunga. Dia masih kelas 2 SMA. Kami satu gereja. Suatu malam, dia mengetuk pintu rumah dinas saya. Dengan suara agak berbisik-bisik, dia bertanya, apakah saya punya alat tes kehamilan? Dia sudah terlambat 2 bulan. Dia sudah coba mengecek sendiri secara sembunyi-sembunyi dua kali, satu positif dan satu lagi negatif. Saya bertanya padanya, apakah dia berhubungan seksual sebelum ini? Ya. Apakah dia menggunakan pengaman? Tidak. Apakah pasangannya ejakulasi di dalam? Ya. Saya menarik napas panjang, lalu mengambilkannya test pack. Dia bertanya, kalau positif, apakah tidak bisa digugurkan saja? Saya bilang, tidak bisa, sebab di Indonesia, aborsi itu melanggar hukum. Bukan cuma dokter atau petugas kesehatannya, kamu pun bisa dipenjara. Dan jangan coba-coba aborsi sendiri atau pergi ke dukun, sebab sangat tidak aman, kamu bisa mati. Jawabnya, tapi saya masih kepengin terus sekolah, Dok. Saya tertegun. Setelah berpikir sejenak, saya bilang padanya, kalau memang positif, kamu harus bilang sama orangtua kamu dengan jujur, dan kamu harus tegaskan kamu masih mau sekolah. Nggak ada yang berhak melarang kamu sekolah. Dia menjawab, lho, Dok, bukannya kalau ada anak sekolah yang hamil biasanya langsung dikeluarkan? Dengan sikap sok yakin, saya menjawab, setahu saya, di Indonesia tidak ada hukum yang bisa merampas hak seorang anak untuk melanjutkan sekolah meskipun dia hamil, sebab pendidikan adalah hak asasi. Dia mengangguk. Saya beritahu dia, lain kali, kalau memang tidak bisa tidak berhubungan, kamu harus pakai kondom. Selain supaya tidak hamil, juga supaya tidak kena penyakit. Jawabnya, lho, memangnya kalau saya cuma berhubungan dengan dia saja, tidak ganti-ganti, tetap bisa kena penyakit? Saya tertegun, lagi. Dan akhirnya saya menjawab, tapi kamu nggak tahu, kan, dia berhubungan sama siapa saja selain kamu, dia punya penyakit atau nggak?

Malam itu saya gelisah, mencari info ke mana-mana, ke teman-teman yang sekolah hukum dan yang berprofesi sebagai pengacara atau jaksa muda. Saya berusaha memastikan, betul, kan, tidak ada hukum di Indonesia yang melarang siswa yang hamil untuk melanjutkan sekolah? Jawaban yang saya dapatkan: tidak ada hukum yang eksplisit, yang ada hanya peraturan pemerintah yang intinya mewajibkan peserta didik untuk “mengikuti norma-norma yang ditetapkan sekolah”. Dan peraturan inilah yang seringkali diinterpretasikan oleh banyak sekolah untuk mengeluarkan siswa yang hamil di luar nikah. Seolah mereka tidak bermoral dan itulah hukumannya.

Beberapa hari kemudian, dia datang mengabari bahwa memang dia positif hamil. Saya tanya, bagaimana orangtuamu, sekolahmu? Dia jawab, ya, ibunya sudah menghadap kepala sekolah dan katanya boleh cuti dulu sampai melahirkan, baru setelah itu lanjut. Dia melakukan pemeriksaan kehamilannya yang pertama. Saya merekomendasikan pemeriksaan kehamilan teratur pada salah satu bidan kami yang usianya paling muda, sebab Bunga takut jika datang ke bidan senior dia akan dihakimi dan gosip tentang dia akan menyebar ke mana-mana. Apalagi kalau datang memeriksakan diri di puskesmas yang padat seperti pasar. Saya berjanji akan menelepon langsung bidan muda itu, untuk minta tolong. Saya menanyakan tentang pasangannya, apakah mau bertanggung jawab? Dia menjawab, susah, Dok, dia sudah ada istri.

Malam itu saya gelisah lagi, kali ini gara-gara memikirkan seorang lelaki bajingan yang sudah berkeluarga dengan asyiknya meniduri seorang anak SMA dan cukup goblok untuk menghamilinya.

Dua minggu kemudian, saya baru tahu bahwa Bunga selalu minta diantar ke rumah saya oleh seorang anggota keluarganya, entah tantenya atau siapa. Suatu malam, ibu ini datang untuk berobat. Dia bercerita, dia tidak mau lagi mengantar-antar Bunga untuk “urusan ini”, karena anak itu “susah dikendalikan, susah dinasihati”, “selalu ke sana kemari dengan laki-laki”. Urusan si lelaki bajingan luput dari perhatian ibu ini.

Depressing enough?

Saat ini, saya bisa menuliskan cerita-cerita di atas dengan tenang dan teratur. Namun, pada saat saya mendengarnya, sulit bagi saya untuk tidak memberontak terhadap kenyataan. Terhadap masyarakat. Terhadap prinsip-prinsip keadilan. I mean, this is crazy. Anak-anak ini, remaja-remaja ini, menanggung akibat luar biasa dari hal-hal yang, ketika mereka lakukan, tidak mereka sadari betul risikonya. Karena tidak ada yang pernah memberitahu mereka, mencoba membuat mereka paham, atau menyajikan akses untuk itu.

Yang ada, mereka paling banter hanya dilarang. Lalu, dipersalahkan. Atas nama moral, tentu saja.

Apakah seseorang bisa dipersalahkan atas ketidakpahaman? Siapa yang harus dituntut tanggung jawabnya atas ketidakpahaman itu? Neraka? Iblis? Moral “anak-anak sekarang” yang menurun? Kenakalan dan keliaran remaja?

Atau kita, orang-orang dewasa – orangtua, keluarga, guru, tokoh masyarakat, pekerja kesehatan – yang sepertinya selalu siap menuding jari tapi seringkali pura-pura menutup mata?

sumber gambar

sumber gambar

Saya pernah memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi pada siswa-siswa kelas 2 dan 3 SMP di sini. Saat saya mulai, beberapa guru, semuanya perempuan, duduk di bagian belakang. Saya cukup senang, sebab materi penyuluhan ini juga penting bagi guru-guru, agar mereka bisa memberi jawaban yang benar saat ditanya oleh siswa-siswanya. Baru dua puluh menit presentasi berjalan, beberapa guru mulai menguap. Setengah jalan, saya menyadari bahwa mereka sudah menghilang entah ke mana.

Atau, suatu hari, saya memberikan penyuluhan HIV/AIDS pada kader-kader kesehatan desa dari seluruh kecamatan. Slide yang saya pakai adalah turunan dari seorang senior saya, sangat sistematis dan mudah dipahami. Pada bagian tentang hal-hal apa saja yang bisa menulari atau tidak menulari orang dengan HIV, slide sengaja saya pasang berlama-lama dan penjelasan saya tegaskan berkali-kali. Di sesi pertanyaan, seorang ibu kader yang duduk paling depan mengangkat tangan. Dia bertanya, apakah menggunakan alat makan bersama akan menularkan HIV? Dengan heran, saya memajang kembali slide, lalu mengulang penjelasan saya tiga kali lagi. Sebenarnya, saya tidak keberatan mengulang-ulang penjelasan. Masalahnya, saat mengajukan pertanyaan itu – semoga ini hanya imajinasi saya – bahkan setelah kader-kader lain berseru mengulang jawaban saya, tidak, memakai piring sendok garpu yang sama tidak menularkan HIV, ekspresi di wajah ibu kader itu masih terlihat tidak percaya. Tidak yakin. Dan, ya, jijik.

Teman yang sama, yang pernah menunjukkan pada saya rumah muridnya itu, yang lulusan sarjana pendidikan universitas negeri, juga pernah bercerita tentang kehidupan seksualnya yang aktif sejak masih kuliah. Saya menganjurkannya untuk mencari dan memakai kondom. Dia heran. Katanya, dia tidak suka memakai “barang itu”, karena tidak enak. Saya mencoba menjelaskan tentang penyakit menular seksual dan penularannya, terutama HIV/AIDS. Dia bilang, dia tidak pernah sakit dan tidak pernah tidur dengan orang sembarang. Saya bilang, kamu tahu dari mana kamu atau orang yang kamu ajak main nggak sakit? HIV bisa tidak bergejala selama bertahun-tahun. Karena perilakunya berisiko, saya menyuruh dia memeriksakan diri. Dia tetap bersikeras, dia tidak merasa sakit atau pernah sakit. Dan sejak itu, setiap saya mencoba mengangkat topik yang sama, dia segera mengalihkan pembicaraan.

It’s unbelievable how adults can be so stone-headed and ignorant, and at the same time, judgmental. Bahkan mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun.

Penulis artikel ini menceritakan bahwa sebagian besar dari kelompok responden kecilnya mencari sendiri informasi mengenai seks melalui internet, sebab mereka takut dihakimi dan merasa enggan bertanya pada orangtua atau gurunya. Itu terjadi pada anak-anak di perkotaan. Bagaimana dengan anak-anak di daerah terpencil seperti Bunga, seperti Melati, seperti kedua anak SMP itu? Apakah bahkan terpikir oleh mereka untuk mencari tahu, jika orang-orang tua saja, apabila datang mengeluhkan keputihan atau gatal-gatal di area kelamin, misalnya, selalu bicara berbisik-bisik pada saya? Apakah berguna bagi mereka, jika kondom disembunyikan oleh bidan-bidan senior dan hanya dikeluarkan kepada para pasutri, sementara di sini tidak ada minimarket atau apotek? Apakah cukup bagi mereka, mendengarkan betapa panasnya neraka bagi orang-orang yang berzinah? Saya tidak yakin.

This is not a gruesome fairy tale. Ini kenyataan. Suka tidak suka, ada neraka atau tidak, remaja mengalami perubahan dan dorongan seksual. Orang-orang tidak akan berhenti berhubungan seksual hanya karena ada banyak gereja di lingkungan mereka. WHO (World Health Organization) memberikan tahap-tahap pedoman untuk mencegah penularan HIV/AIDS dengan singkatan ABC:

  • Abstinence – sama sekali tidak berhubungan seksual. Jika ini tidak mungkin, maka lakukanlah
  • Be faithful – setia dan hanya berhubungan seksual dengan satu orang yang sudah pasti berada dalam keadaan sehat. Kalau ini pun tidak bisa, maka opsi berikutnya adalah
  • Condom – selalu lindungi dirimu dengan kondom setiap kali berhubungan seksual

See? There are what ifs. There’s always plan B. There HAS to be plan B. Tidak peduli seberapa ideal kita menginginkan segala sesuatu berlangsung, selalu harus ada rencana cadangan.

Di awal tulisan ini, saya menyatakan bahwa saya tidak percaya moralitas adalah satu-satunya cara terbaik untuk memperbaiki segalanya. Bukan berarti saya menganggap moralitas tidak berguna. Tapi moralitas seharusnya menjadi rekan sekerja bagi tindakan-tindakan realistis. Sebab dunia ini bukan dunia utopia.

Ini kehidupan nyata, dan dalam kehidupan nyata, shit happens. A lot. Bangunlah. Buka mata dan sadarilah. Jangan pura-pura tidak tahu. Jangan menyangkal kenyataan. Lakukan sesuatu yang nyata.

Please, please, DO something.

sumber gambar

****

P.S. Saat mencari data untuk tulisan ini, saya menemukan sebuah artikel di situs bernuansa keagamaan yang menuduh klaim ilmiah bahwa kondom mampu mencegah penularan HIV sebagai kebohongan, sebab sesungguhnya virus HIV mampu menembus pori-pori kondom. Padahal, edaran resmi dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menyatakan sebaliknya, yaitu bahwa penelitian di laboratorium membuktikan bahan kondom tidak dapat ditembus oleh kuman penyebab penyakit menular seksual, bahkan yang terkecil sekalipun yaitu HIV. Oleh karena itu, penggunaan kondom secara BENAR dan KONSISTEN mampu menekan penularan HIV dengan sangat efektif, dan penularan penyakit menular seksual lain dengan efektivitas berbeda. Di artikel yang lain, situs ini juga menuduh program GenRe dari BKKBN, sebuah program kependudukan dan keluarga berencana bagi remaja yang mencakup permasalahan seputar seksualitas, HIV/AIDS, rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, dan batas usia kawin minimum perempuan yang relatif masih rendah, sebagai upaya salah kaprah yang hanya akan semakin memperparah kerusakan moral remaja dan masyarakat. My opinion? What a laughing stock, these guys are. Bukti nyata bagaimana dominasi sudut pandang moralitas mampu mendistorsi cara pandang kita.

P.S.S. Saya menemukan sebuah film pendek yang mampu menggambarkan dengan tepat kritik atas sistem tabu dalam masyarakat terkait sosialisasi kondom. Film ini lucu, enak ditonton, dan menohok dengan tepat. You really should watch it. And I like to see how Dena Rachman, an Indonesian transgender and former child singer, participated in this movie. She is truly bold, and beautiful.

CATCALLING: Pelecehan Terhadap Perempuan!

Esai ini ditujukan untuk sesama perempuan Indonesia – dengan orientasi seksual apa pun, cisgender maupun transgender, usia berapa pun, status apa pun.

Pernahkah kalian mendengar istilah catcalling?

Saya seorang perempuan Indonesia, heteroseksual, cisgender, 26 tahun, lajang. Saat ini saya sedang bekerja sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di sebuah Puskesmas suatu kecamatan di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Daerah ini termasuk kategori ST (Sangat Terpencil), tapi saya beruntung karena entah bagaimana sinyal internet di sini masih sanggup 3G.

Suatu malam, saya kehabisan lauk makan. Saya lalu memutuskan untuk pergi ke sebuah warung yang letaknya kurang lebih 20 meter dari rumah dinas untuk membeli mi instan. Saat itu belum terlalu larut, mungkin sekitar pukul 8 malam waktu setempat.

Secara umum, saya seorang introvert yang tidak pernah benar-benar merasa nyaman berada di ruang publik terbuka atau di antara orang(-orang) asing. Saat berjalan di ruang publik, entah karena ke-introvert-an saya atau karena insting (yang menyedihkan) sebagai perempuan, saya lebih sering memfokuskan pandangan pada ponsel, bintang di langit, aspal – apa pun selain orang-orang.

Maka berjalanlah saya. Sebenarnya jalannya cukup lebar, juga sudah beraspal. Tapi situasi jalan gelap, hanya ada penerangan dari lampu-lampu rumah warga yang agak jarang-jarang. Situasi di depan terlihat, tapi bahaya menginjak tahi anjing di rerumputan cukup nyata.

Baru lima menit berjalan, dari seberang jalan – entah dari rumah yang mana atau gang yang mana, tidak kelihatan – terdengar suara-suara:

“Dok!”

“Dok! Dokter!”

“Hei, Dok!”

“Jangan malu-malu, dong, Dok!”

Saya tidak tahu suara-suara itu berasal dari remaja atau bapak-bapak. Saya tidak tahu ada berapa orang.

Beberapa saat sebelum memutuskan keluar rumah, saya baru saja membaca artikel tentang street harrassment ini, yang ditulis oleh Hannah Al Rashid, aktris Indonesia blasteran Perancis-Bugis. Dia, seorang selebriti, menceritakan bagaimana ia dilecehkan secara seksual (dengan cara diremas payudaranya) di salah satu jalan kecil di Jakarta, dan bagaimana ia memutuskan melawan. Beberapa menit setelah membacanya, saya, seorang perempuan biasa yang socially awkward, langsung mengalaminya sendiri dalam bentuk catcalling, di salah satu desa kecil di ujung dunia.

Pelecehan terhadap perempuan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, pada siapa saja. DALAM BENTUK APA SAJA.


sumber gambar

Setelah membaca cerita saya (dan membandingkannya dengan Hannah), mungkin kalian berpikir, “Ah, pelecehan seksual apanya? Itu, kan, cuma cowok-cowok iseng kurang kerjaan. Kalau ceritanya Hannah, nah, itu baru mengerikan.”

Kalau kalian meng-Googling kata kunci “catcalling” atau “catcall”, kalian akan menemukan bahwa istilah ini berarti:

  1. Melakukan hal-hal bertendensi seksual (biasanya dengan volume keras meski belum tentu secara eksplisit), termasuk bersiul, berseru, memberikan gestur, atau berkomentar, biasanya kepada perempuan (juga bisa laki-laki atau gender yang lain) yang lewat di jalan
  2. Menyuarakan bebunyian atau keributan kepada seseorang di depan publik yang membuat orang itu tidak nyaman (biasanya kepada pembicara, performer, atlet, dll.)

Bentuk catcalling bisa macam-macam. Kalau di Amerika atau negara Barat, biasanya catcalling ini berkisar antara pujian-pujian iseng (“Hey, gorgeous, where are you going?”) sampai yang betul-betul mengerikan dan eksplisit secara seksual (“Nice tits!”, “Why don’t you suck my cock?”). Kalau di Indonesia, bisa berbentuk siulan-siulan atau bebunyian tidak sopan, “pujian” (“Hai, Cantik, mau ke mana?”), sapaan absurd (“Cewek, sendirian aja, nih? Mau ditemenin, nggak?”), perhatian yang tidak masuk akal (“Kok, cemberut aja, Neng? Lagi sedih, ya?”), dsb. Biasanya kalau korbannya bersikap acuh, catcalling ini akan berkembang menjadi komentar-komentar seperti, “Ih, sombong banget, sih?”, “Jangan malu-malu, dong….”, dst. Bahkan teman-teman perempuan berhijab bercerita bahwa mereka sering mendapat catcalling dalam bentuk sapaan Assalamualaikum secara random di jalan – Assalamuaikum adalah doa, tapi seriously, kalau seorang atau segerombolan lelaki tidak jelas di jalan menyapamu dengan sapaan itu tanpa ada angin atau hujan, apakah kamu percaya mereka sungguh-sungguh sedang mendoakanmu damai sejahtera?

Sekarang, coba bayangkan kalau kalian mengalami itu semua. Atau, saya yakin, sebagian besar dari kalian sudah pernah mengalaminya, terutama yang berdomisili di kota-kota besar.

sumber gambar

Rata-rata korban catcalling akan merasa tidak nyaman, terganggu, malu, bahkan takut. Ada beberapa yang merasa bangga atau senang saat mendapat catcalling bernada pujian, tapi biasanya kebanggaan ini terkait dengan respon body image yang keliru (“Kalau aku lewat di jalan dan nggak ada yang godain aku, jangan-jangan itu berarti aku segitu nggak menariknya?” dan semacamnya). Menurut sebuah survey psikologis yang berbasis di New Jersey, catcalling dapat menyebabkan korbannya tanpa sadar melakukan penilaian atas dirinya sendiri seperti layaknya menilai benda (self-objectification), membuat sang korban menilai dirinya sebagai bagian-bagian tubuh alih-alih seorang manusia yang utuh dan cerdas. Catcalling juga dapat menimbulkan perasaan takut dan tidak aman dalam berbagai gradasi, karena seorang korban (biasanya dalam hal ini perempuan) tidak pernah bisa yakin apakah “keisengan” yang dialaminya itu akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan atau tidak.

Menurut opini pribadi saya, catcalling adalah suatu bentuk perendahan martabat dan pelanggaran terhadap ruang privat. Selain, tentu saja, pelecehan secara seksual dan pelanggaran terhadap hak otoritas tubuh dari sudut pandang korban perempuan. Sesederhana apa pun bentuknya. Mengapa?

  1. Pelaku catcalling merasa berhak untuk menilai, mengomentari, dan menjustifikasi penampilan serta tubuh sang korban sebagai obyek sesuai kepentingan dan seleranya, biasanya dalam konteks seksual (sesamar apa pun).
  2. Pelaku catcalling mendesakkan suatu bentuk perhatian yang tidak diinginkan, dan justru mengganggu, korbannya.
  3. Pelaku catcalling memaksakan relasi yang tidak diinginkan dan tidak diterima korbannya (baca: merangsek masuk ke dalam wilayah privat korbannya) meski sang korban jelas-jelas menolak.
  4. Pelaku catcalling biasanya memberikan respon negatif jika korban mengacuhkannya (kalau di Amerika, bahkan sampai ada yang bilang, “Hey, bitch, I’m talking to you!” atau “Hey, I said you’re beautiful! You should be grateful for that!”). Bagi saya, ini menunjukkan bahwa si pelaku merasa “lebih” dari korbannya.
  5. Dan belum termasuk kenyataan bahwa kelakuan ini tidak sopan, norak, dan annoying.

Sudah terbayang, kan, sekarang?

https://i.embed.ly/1/display/resize?key=1e6a1a1efdb011df84894040444cdc60&url=http%3A%2F%2Fpbs.twimg.com%2Fmedia%2FBvXD6NHCcAAaRJv.jpg
sumber gambar

Kembali ke cerita saya. Seperti sudah saya tuliskan, saya seorang introvert seratus persen. Talking back to strangers who act annoying? Definitely not my cup of tea.

Tapi….

Pikir-pikir, kenapa, ya, mereka melakukan catcalling pada saya? Jelas bukan karena penampilan saya – saya cuma pakai kaus dan celana piama selutut. Apakah karena saya dokter PTT perempuan pertama setelah entah berapa lama? Apakah karena saya pendatang dari “Jawa”, the faraway land of magic? Apakah karena mereka hanya kurang kerjaan? Apakah karena status dokter saya? Apakah mereka bahkan memahami konsep “sexist”?

Cuma neraka yang tahu. Yang jelas, mereka mengganggu dan melecehkan. Dan saya pun memutuskan untuk membalas berteriak – meskipun sambil agak gemetar – dalam logat setempat yang sudah lumayan menempel di lidah saya, “Jangan kurang ajar, ya!” Lalu terus berjalan.


sumber gambar

Saya tetap merasa takut saat melakukannya. Ini lingkungan kecil dengan adat kuat, segerombolan katak dalam tempurung – entah siapa yang saya teriaki tadi, entah siapa yang memiliki kemungkinan jadi sakit hati lalu mengirimi saya guna-guna (Oh please God forbid – bukan berarti saya percaya guna-guna… atau saya percaya? Damn, this has started to be confusing….).

Tapi, Hannah benar. Kita, para korban catcalling, merasa terganggu bahkan takut. Tapi mereka, pelaku catcalling, sulit menyadari itu. Seperti dicatat dalam tesis di artikel ini pula, seringkali tak terlintas dalam pikiran para pelaku catcalling – dalam hal ini para pelaku laki-laki – bahwa ketika kita melawan, yang kita lawan adalah perilaku mereka, bukan diri mereka secara personal. Bagi mereka, catcalling adalah sekadar keisengan pengisi waktu, taktik (menyedihkan) untuk menarik perhatian lawan jenis, atau bahkan usaha untuk memuji!

If we don’t stand up for ourselves, who else will?

***

P.S. Persoalan “bagaimana seharusnya merespon catcalling” membuat otak saya berdesing selama sehari berikutnya, dan saya menemukan beberapa alternatif jawaban – mulai dari yang galak, sarkas, sampai yang lucu – via Google dengan kata kunci “catcalling respond”. Tidak semuanya bisa dilakukan dalam segala situasi, though. Bagaimanapun, keselamatan diri harus diprioritaskan.